Ketika Es Oyen Jadi Pilihan
19 Apr 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in varian
Dulu, pergantian musim relatif stabil. Tapi itu dulu, sekarang bumi sudah semakin tua, manusia bukannya semakin bijak dalam mengambil SDA, mereka malah semena-mena mengambilnya. Akibatnya? Bumi mengalami peningkatan suhu yang sangat drastic, atau bahasa kerennya: “Global Warming”.
Oleh sebab itu musim di Indonesia menjadi tak teratur, kadang hujan, trus panas bangeeett…., eh, hujan lagi. Dasar, musim sekarang sudah nggak konsisten lagi. Dan biasanya musim kemarau lebih sering nampang dari pada musim penghujan. Inilah salah satu dampak dari perubahan suhu bumi yang berubah secara drastis.
Jika sudah seperti ini siapa yang untung hayooo….? Petani? Mereka malah pusing minta ampun untuk cari air. Jawabannya? Sederhana saja, tukang es. Segala macam penjual es pasti untung banget dech…., dari penjual es teh, es dawet, es jeruk, es degan, dll.
Selain macam-macam es di atas ada juga es oyen yang pasti sudah terkenal di kalangan anak muda gaul seperti sobat Art. Penjual es oyen di Ngawi sekarang seperti cendawan di musim penghujan.
Salah satu penjual es oyen yang sekarang memenuhi rubrik lensa kali lumayan ramah dan sedikit omong (tapi tetep komunikatif kok), so, itu memudahkan Art untuk mengkorek-korek tentang es oyen.
Penjual es oyen yang satu ini bukan seorang bapak-bapak atau ibu-ibu yang usianya diatas kita. Usianya menyiratkan bahwa ‘beliau’ masih muda dan seperti seorang pelajar. ”Saya berumur 17 setengah mbak,” ujarnya dengan wajah ceria layaknya remaja yang menyongsong masa depan cerah.
Dialah penjual es oyen yang berada di utara LAPAS Ngawi, dekat alun-alun, dengan tanda pengenal Jeje di gerobaknya. Nama aslinya adalah Jamaludin, berasal dari Ciamis, Bandung. Lagi
Melodi Alfa dalam Dunia Maya
19 Apr 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Cerpen
Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Maya kalau ia akan benar-benar hidup sendiri seperti sekarang. Tidak pernah terbayang kalau ia akan kehilangan sebuah melodi indah dalam hidupnya, sebuah melodi yang mengalun pelan dan merdu di setiap langkahnya.
Kalau bisa Maya ingin sekali terus mengatakan pada sebuah melodi itu untuk tetap disini. Tapi, Maya juga ingin seandainya saja ia tidak bertemu dengan kenangan itu, pastikan Maya tidak akan merasa sesedih ini.
“Di tempat biasa dia bilang, cepat ya!!”
Maya langsung berjalan cepat menuju tempat yang dikatakan oleh temannya itu. Langkahnya terhenti saat tiba di sebuah taman kota, dia meihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk lemas di bangku yang bercat warna putih. Mata anak itu memandang jauh ke depan dengan tatapan yang sayu. Haahh…, Maya menghela nafas saat melihat laki-laki itu, seseorang yang sudah berjuang untuk Maya tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Lagi
Monalisa Kedua
19 Apr 2011 3 Komentar
in Cerpen
Lagi-lagi aku melihat gadis itu. Tatap mata gadis manis pembawa boneka koala itu menerawang jauh ke arah laut, tak ada senyum di mulut mungilnya, maupun gerak halus di tubuh indahnya. Dia hanya duduk terpaku di sana, menatap penuh rindu lautan luas sambil memeluk mesra bonekanya.
Siapa dia? Entahlah, aku tak mengenalnya. Dan lagi, aku hanya sesekali saja memergokinya melamun seperti itu. Memang awalnya aku tak terlalu peduli, sampai akhirnya kenyataan mengungkapkan sesuatu yang besar tentangnya.
# # #
Hidup sendiri sebagai anak kost membuatku merasa bebas tapi terikat. Enak sih enak apalagi kalau kau seorang cowok, tak ada yang akan memarahimu kalau kau mau molor bahkan bolos kuliah sekalipun, takkan ada lagi rengekan manja dari adik perempuanmu yang selalu saja minta ini itu. Tapi ya itu, terikat dengan kedisiplinan untuk menyelesaikan tunggakan kost adalah kewajiban, ditambah rasa rindu dengan makanan rumah sudah jadi menu utamaku. Syukurlah, pemilik kost di sini baik semua. Lagi