Ketika Es Oyen Jadi Pilihan

Dulu, pergantian musim relatif stabil. Tapi itu dulu, sekarang bumi sudah semakin tua, manusia bukannya semakin bijak dalam mengambil SDA, mereka malah semena-mena mengambilnya. Akibatnya? Bumi mengalami peningkatan suhu yang sangat drastic, atau bahasa kerennya: “Global Warming”.

Oleh sebab itu musim di Indonesia menjadi tak teratur, kadang hujan, trus panas bangeeett…., eh, hujan lagi. Dasar, musim sekarang sudah nggak konsisten lagi. Dan biasanya musim kemarau lebih sering nampang dari pada musim penghujan. Inilah salah satu dampak dari perubahan suhu bumi yang berubah secara drastis.

Jika sudah seperti ini siapa yang untung hayooo….? Petani? Mereka malah pusing minta ampun untuk cari air. Jawabannya? Sederhana saja, tukang es. Segala macam penjual es pasti untung banget dech…., dari penjual es teh, es dawet, es jeruk, es degan, dll.

Selain macam-macam es di atas ada juga es oyen yang pasti sudah terkenal di kalangan anak muda gaul seperti sobat Art. Penjual es oyen di Ngawi sekarang seperti cendawan di musim penghujan.

Salah satu penjual es oyen yang sekarang memenuhi rubrik lensa kali lumayan ramah dan sedikit omong (tapi tetep komunikatif kok), so, itu memudahkan Art untuk mengkorek-korek tentang es oyen.

Penjual es oyen yang satu ini bukan seorang bapak-bapak atau ibu-ibu yang usianya diatas kita. Usianya menyiratkan bahwa ‘beliau’ masih muda dan seperti seorang pelajar. ”Saya berumur 17 setengah mbak,” ujarnya dengan wajah ceria layaknya remaja yang menyongsong masa depan cerah.

Dialah penjual es oyen yang berada di utara LAPAS Ngawi, dekat alun-alun, dengan tanda pengenal Jeje di gerobaknya. Nama aslinya adalah Jamaludin, berasal dari Ciamis, Bandung.

Ketika ditanya mengapa mas Jeje pindah ke Ngawi dan memilih berjualan es oyen, dia menjawab,”Saya ke Ngawi diajak Pak Obay.” Siapa tuh Pak Obay? Beliau adalah pemberi modal dalam pembuatan es oyen yang berasal dari Jogjakarta.

Kalian pasti penasaran kan dari mana sich es oyen ini? Dan mengapa diberi nama es oyen? Sebenarnya es oyen ini berasal dari kota kembang Bandung. Kalo soal namanya, oyen itu diambil dari kata “oye” yang artinya oke, dan setelah mengalami perubahan jadi es oyen dech. “Ya kalo namanya es oye kurang gimana gitu, biar lebih sangar, ya ‘oyen’ kan lebih enak didengar,” tambah mas Jeje. Terserah dech mau oye atau oyen, yang penting kan rasa dan kualitasnya.

Pendapatan rata-rata es oyen perhari adalah sekitar 120-130 ribu. “Kadang ya tergantung musim mbak, kalau kemarau ya lebih laku mbak,” paparnya.

Dilihat dari pendapatan seperti itu, kalau dipikir-pikir, untuk hidup merantau di kota orang ternyata tidaklah mudah. Semua dicukupkan untuk menyambung hidup. Meskipun gerobak tersebut menyewa, tapi masih bisa cukup.

            Bagi mas Jeje berdagang bukanlah pilihan hidup. Art yakin tidak ada manusia yang hanya ingin hidup dengan kata cukup, pasti semua ingin hidup lebih dari cukup. Dalam wawancara ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita jangan menyerah dengan tantangan hidup. Ingatlah, selama kita masih mempunyai tangan dan kaki kita harus mampu menompang hidup kita. Art yakin, berjualan es oyen bagi mas Jeje hanyalah batu loncatan untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.