Melodi Alfa dalam Dunia Maya
19 Apr 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Cerpen
Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Maya kalau ia akan benar-benar hidup sendiri seperti sekarang. Tidak pernah terbayang kalau ia akan kehilangan sebuah melodi indah dalam hidupnya, sebuah melodi yang mengalun pelan dan merdu di setiap langkahnya.
Kalau bisa Maya ingin sekali terus mengatakan pada sebuah melodi itu untuk tetap disini. Tapi, Maya juga ingin seandainya saja ia tidak bertemu dengan kenangan itu, pastikan Maya tidak akan merasa sesedih ini.
“Di tempat biasa dia bilang, cepat ya!!”
Maya langsung berjalan cepat menuju tempat yang dikatakan oleh temannya itu. Langkahnya terhenti saat tiba di sebuah taman kota, dia meihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk lemas di bangku yang bercat warna putih. Mata anak itu memandang jauh ke depan dengan tatapan yang sayu. Haahh…, Maya menghela nafas saat melihat laki-laki itu, seseorang yang sudah berjuang untuk Maya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
Maya menatap lekat laki-laki itu dan ingatannya melayang pada sepuluh tahun yang lalu, saat pertama hidupnya mulai berubah, saat pertama Maya hampir melupakan semua cita-citanya, di saat ibunya meninggalkan Maya untuk selama-lamanya, saat pertama hidup Maya mengenal berbagai melodi indah. Seorang lelaki yang begitu dekat dengan Maya, Kekasih Maya? Bukan, dia bukan kekasih Maya. Dia adalah sahabat Maya yang memiliki cita-cita begitu tinggi dalam hidupnya yang bisa dikatakan kurang beruntung ini.
“Alfa…,” ucap Maya lirih.
Saat ia mulai teringat bagaimana hari pertamanya bertemu dengan Alfa, saat itu Maya berusia delapan tahun, di mana saat itu juga ibunya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Maya benar – benar terpukul menerima kenyataan itu. Maya mulai beruah dan seolah lupa akan sesuatu yang telah ia janjikan kepada ibunya. Malam setelah dua bulan pemakaman ibunya Maya kabur dari rumah, waktu itu hujan turun sangat deras, Maya kecil menangis di emperan sebuah toko, ia menundukkan kepalanya sambil sesekali menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya utuk mengurangi dingin yang menusuk tulang. Hingga seorang anak laki-laki menghampirinya dan menyodorkan sebungkus roti kepadanya.
“Ini, kau pasti lapar kan?”
“Ehh???”
“Sudah ambil…”
“Kau pikir aku anak jalanan??” ucap Maya sedikit tak terima.
“Ah? Bukan ya? Maaf, habis kau kacau sekali sih.”
”Apa sih?”
”Lalu, kau kenapa malam-malam begini – di tambah ini hujan deras lagi – ada di sini?”
Teruslah mereka berkenalan, dan semenjak itu mereka mulai dekat.
Alfa-lah yang membuat Maya pulang ke rumah, yang juga membuat Maya merelakan kepergian ibnya, bahkan yang membuat Maya kembali berusaha untuk memenuhi janji pada mendiang ibunya.
Kebetulan saat itu juga Alfa sedang memiliki masalah dalam keluarganya, orang tuanya bercerai. Dan rasanya sudah ingn mati saja jika ia terus berada di rumah yang bagaikan neraka itu. Hingga Alfa tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kuat dan selalu optimis sedangkan Maya tumbuh menjadi gadis yang manis, pintar, walau agak sedikit kasar. Mereka menjadi sahabat yang selalu ada dan mengerti, apalagi Alfa yang sering membantu Maya.
Dalam hidupnya Alfa bercita-cita menjadi pianis hebat dan bisa konser di seluruh dunia. Usaha yang dilakukan Alfa sangat keras untuk mencapai cita-citanya itu, ia selalu berlatih walau dengan piano pinjaman milik Maya, dan ia selalu optimis juga yakin kalau suatu hari nanti ia akan menjadi seorang pianis yang akan dikagumi dan disenangi oleh orang diseluruh dunia.
Ia akan berada di panggung besar dan megah dan sedang memainkan sebuah melodi indah dengan piano mewah di hadapannya, dengan disaksikan oleh ratusan penonton yang akan berdecak kagum dan hanyut dalam setiap melodi yang dimainkan Alfa oleh jari-jari lincahnya. Sikap Alfa yang selalu optimis itulah yang membuat Maya termotivasi untuk juga berusaha agar cita-cita dan janji terhadap ibunya bisa tercapai, walau terkadang sifat Maya yang tidak sabaran membuatnya tidak yakin kalau ia bisa dan akan berhasil.
Maka dari itu, Alfa selalu menyemangati Maya dan memberinya motifasi dengan selalu memainkan sebuah lagu berisikan nada-nada yang menyentuh hati. Dan terkadang membuat Maya teringat akan ibunya, tapi Maya sangat bahagia jika mendengar lagu-lagu yang dimainkan oleh Alfa. Sebuah lagu yang sangat dalam dan bisa membangkitkan semangatnya. Alfa memang sahabat Maya yang terbaik, dan juga sosok kakak yang bisa membuat Maya tenang, apalagi Alfa sudah mebuat Maya tidak merasa hidupnya sendiri lagi juga harus bisa menerima keyataan yang ada.
Panas begitu terasa malam ini, padahal AC di kamar Maya sudah dinyalakan dengan suhu yang lebih dingin dari pada biasanya, tidurpun rasanya juga tidak tenang, sedikit sedikit ia selalu teringat akan melodi-melodi yang sering dimainkan Alfa dengan pianonya. Nada-nada itu selalu terdengar di telinga Maya…, perasaanya kacau dan tidak enak. Apa yang dirasakan Maya malam ini sama dengan yang ia rasakan semalam sebelum kematian ibunya. Ia sama sekali tidak bisa tidur hingga sebuah benda berbentuk kepala doraemon yang tergantung di dinding kamarnya menunjukkan pukul empat pagi, matanya menjadi perih dan merah, ia berusaha untuk memejamkannya tapi sulit sekali rasanya saat itu ia ingin mendengarkan sebuah lagu yang di mainkan oleh Alfa, Maya termenung sesaat hingga handphone-nya berbunyi dan membuyarkan lamunannya.
”Pagi Maya!” ucap seseorang di sebrang telepon sana yang tidak lain adalah Alfa.
”Hmmm… pagi!”
”Iya.., aku hanya ingin mengatakan padamu kalau kau harus terus berusaha dan opimis akan apa yang sudah kau kerjakan seama ini ya…, dan satu lagi, jangan selalu merasa kalau kau itu sendirian Lalu…., maaf kalau aku merepotkanu selama ini…, baik-baik yaa..? Selamat pagi Maya, Sahabatku.”
”Eh, kau ini bicara apa sih?”
tuuuuttt…,, tuuuttt…, tuuuuttt……..
Telepon terputus saat pertanyaan Maya belum sempat dijawab oleh Alfa. Ia heran dengan sikap Alfa yang aneh itu, tidak biasanya Alfa bicara ngelantur seperti itu. Perasaan Maya makin tidak enak lagi. Siangnya ia mencoba untuk jalan-jalan keluar siapa tahu perasaanya ini hanya karena ia bosan di rumah. Ketika sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan waktu pukul setengah sepuluh, handphonenya kembali berbunyi, tapi ini bukan dari Alfa.
“May, aku harap kau bisa menerima berita ini ya…,” ucap orang itu dengan suara parau.
“Kenapa?“ hati Maya mulai tak karuan.
Orang di seberang yang menelepon Maya menarik nafas panjang supaya ia bisa dan tega menceritakan kabar ini pada Maya dan berharap semoga Maya tidak pingsan sesaat setelah mendengar berita ini.
”Hhhhh.., May, Alfa… Alfa kecelakaan tadi pagi…”
Huuuhh……., perasaan Maya benar-benar sudah seperti tersambar petir saat itu juga. ”Lalu, sekarang bagaimana keadaanya?” tanya Maya begitu penasaran.
”Maaf May, Alfa tidak dapat tertolong dan….. ia meninggal….”
DEG!
Jantung Maya seperti berhenti berdetak, badannya mulai lemas dan rasaya ia sudah tidak bisa medengarkan apa-apa lagi selain kalimat yang baru diucapkan temannya tadi, ”Alfa meninggal…”
Apa-apaan ini!? Maya merasa takdir telah mempermainkannya, rasanya baru sebentar ia mengenal sosok yang begitu ia kagumi dan bisa memotivasi dirinya tapi tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja dalam hidupnya. Maya benar-benar membenci hidupnya kali ini, inginnya ia menyusul ibunya dan Alfa.
Semalam setelah pemakaman Alfa, Maya mendengar nada itu lagi, sebuah nada yang indah dan selalu membuatnya bangkit, sebuah nada yang sering dimainkan Alfa jika Maya merasa sedih.
Nada itu terus mengalun hingga jam beker di meja dekat tempat tidurnya berbunyi menandakan waktu sudah pagi, membuat Maya terbangun dari tidurnya yang indah malam ini.
”Ohh… mimpi ternyata,” Maya kaget ketika ia sadar bahwa nada yang baru saja ia dengar adalah sebuah mimpinya malam itu. Membuat Maya teringatkan pesan Alfa yang terakhir, ia termenung dan tersenyum, kemudian hari itu juga telah ia putuskan untuk terus berusaha mencapai cita-citanya, menjadi yang lebih baik dari sebelumya, dan akan menepati janjinya kepada sang ibu tercinta bahwa ia akan menjadi seorang pelukis hebat seperti ibunya dan bisa membuat pameran lukisan besar di Paris. Inilah akhir dari kisah hidup Maya yang selalu diselimuti melodi-melodi indah dari Alfa, sahabat yang sangat ia kagumi, sahabat yang selalu membuatnya tertawa, dan sahabat yang belum sempat mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sekarang, Maya harus berusaha menjalani hidupnya dengan mandiri, membawa semua pesan Alfa yang terakhir dan sebuah impian dan cita-cita tanpa ada melodi yang selalu di mainkan Alfa dalam hari-harinya.