Monalisa Kedua
19 Apr 2011 3 Komentar
in Cerpen
Lagi-lagi aku melihat gadis itu. Tatap mata gadis manis pembawa boneka koala itu menerawang jauh ke arah laut, tak ada senyum di mulut mungilnya, maupun gerak halus di tubuh indahnya. Dia hanya duduk terpaku di sana, menatap penuh rindu lautan luas sambil memeluk mesra bonekanya.
Siapa dia? Entahlah, aku tak mengenalnya. Dan lagi, aku hanya sesekali saja memergokinya melamun seperti itu. Memang awalnya aku tak terlalu peduli, sampai akhirnya kenyataan mengungkapkan sesuatu yang besar tentangnya.
# # #
Hidup sendiri sebagai anak kost membuatku merasa bebas tapi terikat. Enak sih enak apalagi kalau kau seorang cowok, tak ada yang akan memarahimu kalau kau mau molor bahkan bolos kuliah sekalipun, takkan ada lagi rengekan manja dari adik perempuanmu yang selalu saja minta ini itu. Tapi ya itu, terikat dengan kedisiplinan untuk menyelesaikan tunggakan kost adalah kewajiban, ditambah rasa rindu dengan makanan rumah sudah jadi menu utamaku. Syukurlah, pemilik kost di sini baik semua.
Hari itu aku memutuskan untuk bolos kuliah, ber-DotA (sejenis game untuk komputer) ria semalaman dengan anak-anak kost membuatku lupa waktu, begitu game berakhir tahu-tahu sudah pagi, mata tak bisa diajak kompromi, ngantuk setengah mati.
Saat masuk kamar aku langsung teler di tempat tidur. Akh! Tak peduli dengan kuliah hari ini, dosen galak plus materi yang membosankan malah akan membunuhku di kampus. Mendingan molor saja di kost, hmm……, lebih seger.
Tok, tok.
“Hmmm….????”
Tok, tok.
“Ya, ya……,” balasku setengah sadar. Kuangkat kepalaku yang agak berat dan kulirik jam di HPku, 13:30, wuih……, manteb juga tidurku pagi ini.
Tok, tok. Sambil sedikit mengerang aku berusaha bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kamar yang mulai agak berderit, dan……..
“Tada!” Boyke berdiri di ambang pintu. Jangan kaget, Boyke hanyalah panggilan saja, title sebenarnya Haris tapi karena dia agak tanda kutip anak-anak memanggilnya Boyke, yah….., cocok juga sih.
“Ada apa?”
“Anak baru! Ayo tu –“ kalimatnya terhenti mendadak saat menarik tanganku.
“Sorry, belom mandi,” jelasku sambil sedikit cengengesan saat melihat reaksi Boy.
“Kampret! Sana mandi! Pantes, kirain parfum aki-aki lu pake.”
“Sorry, sorry,” aku berbalik ke dalam kamar dan mulai mengaduk almari yang tingginya hanya sepinggangku ini, ”Anak mana Boy?” tanyaku masih sambil mencari baju.
“Katanya sih dari Bandung, blasteran cuy.”
“Maksudmu?” aku menoleh menatapnya.
“Ortunya lah, bapak Bandung, emak bule. Yah, sama aja sih kalo cowok, nggak ada rasanya,” ucapnya setengah nyengir.
Aku berjalan mendekat, ”Ngeres!” ujarku setelah menabraknya pelan dan berjalan ke kamar mandi.
“Hah? Boyke gitu!” jawabnya sambil ketawa.
Begitulah. Itulah awal dari semuanya, anak baru itu bernama Pandu, tingginya sama denganku, hanya saja rambutnya sedikit kecoklatan dengan iris mata kebiruan. Mmm……, ini blasteran apa bule asli ya?
Pandu anak yang enak diajak bicara, orangnya sosialis banget, apalagi kamarnya persis di samping kamarku. Nama panggilannya masih belum ada, menunggu keputusan anak-anak, dan dia hanya tertawa saja saat mendengar berita itu.
Suatu malam aku iseng main ke kamarnya, bersih juga untuk ukuran anak laki-laki.
“Makanannya sudah datang?” tanya Pandu saat aku duduk di sampingnya.
“Belum. Yah, ya begini jadinya kalau minta tolong Boy, kelayapan dulu sampai puas baru pulang.”
Dia tertawa pelan, ”Betah juga ya tinggal di sini, anaknya enak-enak,” akunya, dan akupun mengiyakan pendapatnya.
Sambil sedikit berbincang santai mataku menangkap sesuatu yang baru di kamar Pandu, sesosok foto gadis manis terpajang rapi di atas meja computer di sebelah kananku, seingatku, dulu itu belum ada. Tanpa sadar aku pun memandangi foto itu.
“……er? Dokter?”
Aku tergagap sebentar, ”Ya?”
“Ada apa? Bengong saja dari tadi. Dipanggil nggak nyaut-nyaut.”
“Sorry, mm…., dia siapa ya?” tanyaku sambil menunjuk foto itu.
“Oh, adikku.”
“Adik? Kau punya adik?”
“Yah, bukan adik kandung sih. Ibuku mengangkatnya anak setelah orang tuanya meninggalkannya – dia sebenarnya anak temannya ayahku.”
“Oh,” tanggapku singkat. Pantas, dari wajah dan penampilannya dia lebih masuk ke dalam ras IGO alias Indonesian Girls Only, nggak ada tanda-tanda bekas blasteran. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya. Di mana ya?
“Di mana dia sekarang? Cuma tanya, nggak ada maksud kok,” tambahku cepat-cepat saat Pandu menatapku curiga.
“Dia – “
“Woi! Mesra banget kalian!?” teriak Gombes dari ambang pintu yang sengaja dibiarkan terbuka. Ingat bukan nama asli, Gombes ber-title Panggih.
“Akh! Sarap!” latahku setengah kaget, Pandu tertawa pelan melihatku, ”Sudah selesai kaburnya?” tanyaku berusaha tak menghiraukan tawa Pandu.
“Sudah lah, nih,” dia mengangkat bungkusan besar berisi nasi hangat plus lauk, ”Boy sialan, sok-sokan punya uang, pake nraktir cewek nggak dikenal lagi, jadi nasinya kurang sebungkus nih.”
“Yah……., udahlah, Boy biarin aja dah. Ayo Ndu, mau makan kan?”
“Okey.”jawabnya masih dengan sisa-sisa tawanya tadi. Dasar!
# # #
Hah…., gadis itu lagi. Siapa sih dia? Ngapain juga siang-siang panas begini malah bengong di atas karang gitu?
Iseng-iseng aku pun menghampirinya.
“Siapa ya?” ucap gadis itu mendadak.
Kaget juga, tak kusangka dia bisa tahu kalau ada orang di belakangnya. ”Sorry ganggu. Cuma mau menyapa saja.”
Gadis itu berbalik, dan, oh Tuhan! Dia cantik sekali! Lebih cantik dari pandanganku saat masih di kejauhan selama ini! Syukurlah aku menghampirinya. Tapi…..
“Kau siapa?”
“Ng, panggil saja Ivan. Aku tinggal tak jauh dari sini.”
“Oh,” tanggapnya pendek lalu kembali menatap laut.
Wah, cantik-cantik kok mbeler. ”Boleh aku duduk di sini?” tanyaku sesopan mungkin dan hanya ditanggapi dengan anggukan pelan darinya. ”Ng…, kalau boleh tahu, kenapa kau sering duduk-duduk di sini?”
“Jadi, kau sering melihatku ya?”
“Yah…, tak sering sih, hanya beberapa kali saja,” bohongku.
“Aku….., menunggu seseorang.”
Jjddaarrr!! Bagai terkena petir di siang bolong aku hangus seketika mendengarnya. Duh, kenapa juga baru dapet IGO segini cantik musti kudu langsung patah hati?
“Si, siapa?” tanyaku lagi berusaha menahan perasaan sakit.
“Kakakku.”
Oh, syukurlah………., serasa dapat pencerahan, ”Memang, kenapa kakakmu?”
“Dia sudah janji akan mengajakku berenang, tapi dia tak juga datang, katanya pemandangan bawah air sangat bagus, aku ingin sekali melihatnya.”
“Oh…, kau mau menyelam?” kataku dan dia mengangguk pelan, ”Bagaimana kalau denganku? Yah…, anggap saja aku kakakmu – tapi aku tak memaksa kok.”
Gadis itu menatapku sebentar dengan pandangan kosong lalu tersenyum dengan bentuk yang sulit untuk diungkapkan maksudnya, “Baiklah,” jawabnya mengagetkanku.
Aku balas tersenyum kepadanya, meskipun masih menyisakan tanda tanya besar di kepalaku. Dan, siang itu aku menyelam bersama dengan IGO cantik yang baru kutemui tadi, cukup menyenangkan juga, sampai lupa waktu, tak terasa ternyata sudah sore, dia pamit pulang sambil menggendong boneka koala yang sering dibawanya itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kali ini ditambah dengan bumbu senyum indah yang siap membuat kaum Adam melayang melihatnya.
Ah….., menyenangkan juga, libur-libur dapet pengalaman kayak gini. Lalu akupun pulang, kembali ke kost-ku.
“Dari mana aja, Dok?” tanya Boy sesaat sebelum aku masuk ke kamar mandi.
“Maen, ketemu IGO nih.”
“Wuih, maen apa tuh??”
“Ngeres! Cuma maen air di pinggir pantai tadi.”
“Oh… Oh ya, ane punya barang bagus nih.”
“Apaan?”
“Biasalah…….”
“Akh! Lu doyannya BB mulu! Males ah, sana, nonton aja sama Gombes! Ketahuan Pak kost tahu rasa lu.”
Dia cemberut sebentar lalu berbalik akan pergi, tapi sesaat sebelumnya dia bertanya lagi padaku, ”Siapa nama si IGO tadi?”
“Ng……, oh ya, aku lupa tanya namanya.”
“Jah, dirimu ini.”
# # #
Selesai mandi aku pergi ke beranda, anak-anak pada ngumpul di sana, kecuali Boyke, Gombes, dan Terong (title: Yudha), juga……… Wah, jangan-jangan Pandu diboyong juga nih sama si Boy.
“Pandu mana?” tanyaku sambil mengusap rambutku yang masih agak basah.
“Tadi sih kayaknya di kamar, lagi nge-Kaskus,” jawab Usop (title: Nasir).
“Oh, oke, thanks,” aku bisa bernapas lega sekarang, untung si Boy kagak ngajak dia. Aku pun meluncur ke kamar Pandu, dan ternyata benar, dia ada di sana.”Ayo Ndu, hari ini jadwal kita yang belikan makanan buat anak-anak,” panggilku di ambang pintu.
“Oke, oke. Bentar lagi,” jawabnya sambil masih terus menatap layar komputer.
“Hah.., cepetan, makanan di warung pak Man keburu habis nih.”
“Iya, iya. Lagi ngelunasin utang cendol nih ke ID lu, mau kagak?”
“Eh? O, oke kalau gitu, aku tunggu di sini.”
Tak lama kemudian kami berangkat keluar kost, hawa dingin malam hari langsung menyambut kami berdua. Untunglah tempat beli makanannya tak jauh dari kost, hanya sekitar lima menit naik motor. Tapi nasib berkata lain saat pulang, motor mogok, bengkel sebelah tutup, jadilah kami harus jalan kaki.
“Hah….., motor dan pemilik sama aja. Tukang mbeler.”
“Lu sih Dok pake pinjem motornya Terong, sudah tahu bakalan begini juga.”
“Yah, mau bagaiman lagi? Cuma Terong yang parkirnya di tempat strategis sih,” belaku.
“Ya udah, nasib ya nasib,” balasnya sambil masih terus menggiring motor Terong.
“Oh ya Ndu, tadi aku ketemu IGO lo, lumayan juga.”
“Bikin ngiri! Di mana?”
“Tuh,” jawabku sambil menunjuk ke arah batu karang yang tadi aku singgahi.
“Ngapain tuh IGO di sana? Bunuh diri?”
“Ya nggak lah! Katanya sih nunggu kakaknya, mau berenang bareng gitu.”
Pandu berhenti mendadak dan menatapku dengan mata membulat.
“Apa?” tanyaku keheranan.
“Kau bilang dia menunggu kakaknya?” tanyanya, aku mengangguk membenarkan. ”Kalau begitu ayo kita kembali ke kost.”
“Lha, ini kan memang mau kembali.”
“Maksudku cepatkan langkah lu! Kita musti cepet-cepet kembali ke kost!”
“Ada apa sih? Jangan buat takut gini dong!”
“Sudahlah! Nanti aku jelaskan!”
Begitulah, dengan gerak langkah setengah berlari aku dan Pandu kembali kost.
# # #
“Ada apa sih Ndu?” tanyaku tak sabar setelah kami selesai menghabiskan makan malam. Tanpa banyak bicara Pandu menarikku ke kamarnya, menyuruhku duduk disembarang tempat dan memulai ceritanya.
“Sejak kapan kau mulai lihat dia duduk di sana?”
“Ng….., entahlah, sekitar sebulan sebelum kau datang kalau tak salah.”
“Apa dia selalu membawa boneka koala?”
“I, iya,” perasaanku mulai tak enak, ”Tunggu dulu, jangan buat aku merasa aneh gini. Kau mau bilang kalau gadis yang kutemui itu semacam……, semacam urban legend gitu?” tanyaku berusaha menghianati kata hantu.
“Bukan!!” teriaknya.
“Tenang dong Ndu! Lalu apa?”
“Akh…!!!” erangnya lalu membanting diri ke tempat tidur.”Sana, ambil foto yang kau lihat beberapa hari lalu itu. Sudah ambil saja!” perintahnya.
Dengan sedikit heran kuturuti saja kemauannya. Kuambil kotak foto kecil itu dan kaget setengah mati setelah mengamatinya. “Lho, kok!?”
“Benar dia kan? Dia adikku, meninggal saat masih berumur delapan tahun.”
“Tapi – “
“Mana mungkin kan? Tapi inilah yang terjadi, aku pernah berjanji padanya untuk mengajaknya menyelam di dekat karang itu,” jelasnya masih sambil tiduran di sana.
Kutatap wajah manis di foto itu, ini memang benar-benar dia, bodohnya aku tak segera menyadarinya. Gadis itu duduk manis di kursi rotan tuanya, sambil tersenyum samar dan memegang sesuatu yang ternyata sebuah boneka koala kecil yang selalu didekapnya. Senyumnya aneh, mirip dengan senyum yang ditunjukkannya padaku tadi siang, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Monalisa kedua,” ucapku tanpa sadar.
“Maaf?”
“Ng? Ah, tidak, cuma……, entah kenapa kalau lihat senyumnya ini aku jadi ingat lukisan mahal itu.”
Pandu melepas napas panjang, “Dia adikku, tapi tak punya hubungan darah sama sekali denganku. Meskipun begitu aku tetap mencoba untuk jadi kakak yang baik untuknya. Tapi tetap saja, segala upaya yang aku dan keluargaku lakukan tak pernah membuatnya tersenyum, hanya itulah satu-satunya senyum yang pernah diutarakannya.”
‘Begitu ya?’ batinku. Hah……, jadi ingat sama adik perempuanku di rumah, aku bahkan jarang sekali bersikap manis padanya, jadi tak enak. Sedang apa dia saat ini?
“Aku ingin meminta maaf padanya,” lanjut Pandu, ”Aku melupakan janji itu sampai akhirnya dia jadi korban dari tangan orang-orang tak bertanggung jawab saat menungguku sendirian di sana. Seandainya aku datang, pasti hal itu takkan terjadi, dan aku akan menemukan senyum yang sesungguhnya darinya.” ucapnya pelan setengah merintih sambil menutup wajah dengan lengannya.
# # #
Sejak kejadian malam itu, kini aku tak lagi pernah melihat sosok Monalisa kedua yang duduk termenung di atas karang, kecuali dari foto milik Pandu yang masih saja dipajangnya di atas meja computer.
“Mungkin dia sudah senang,” ujarku, ”Meskipun kau tak melihatnya tapi yakinlah, dia tersenyum tulus sesaat sebelum pergi,” tambahku untuk menenangkan Pandu yang terus saja gelisah.
Akhirnya suatu malam dia cerita padaku, dia bermimpi bertemu adiknya yang tersenyum senang kepadanya sambil berterima kasih lalu memeluknya erat.
Hah…., sepertinya aku juga mulai rindu pada adikku. Kirim sms ah……..
To :
My beloved sister (baru saja kuganti nama kontaknya)
Message :
Lgi ap dik?Ka3 kngen nih………, :malu:
Ntar klo plang bilng ma ibu klo ka3 pngen dibwatin opor ayam yach? :kiss
Bip,bip. Sms terkirim. Tak lama kemudian………… Bip, bip. Sms balasan masuk.
From :
My beloved sister
Message :
WOOEEEII!!UDH MNUM OBT BLOM!?!?Pke acra manggil dik segla! :najis
Mrinding tw dengrnya!! :takut
Sna!Kuliah yg bner!!Jngan mz yg anh” gni lgy!! :batabig
Dan aku ngakak seketika. Oh ya, tapi sampai sekarang aku masih terus kepikiran sama sesuatu. Kenapa anak perempuan yang kutemui dulu itu seperti seumuran denganku ya??
Mei 16, 2011 @ 00:56:15
Ayo… Blog Arthesis diaktifkan lagi…
Mei 19, 2011 @ 08:27:15
sip bro..
Mei 20, 2011 @ 13:38:47
@mzd oke thx bro..
@16 september iya.. doain saja