<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Artesis SMAN 1 Ngawi</title>
	<atom:link href="http://artesiana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://artesiana.wordpress.com</link>
	<description>Create New Creativity</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 May 2011 07:18:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='artesiana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/392652f06f0e378dca92f94a1519f598?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Artesis SMAN 1 Ngawi</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://artesiana.wordpress.com/osd.xml" title="Artesis SMAN 1 Ngawi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://artesiana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Es Oyen Jadi Pilihan</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/ketika-es-oyen-jadi-pilihan/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/ketika-es-oyen-jadi-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 11:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[varian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, pergantian musim relatif stabil. Tapi itu dulu, sekarang bumi sudah semakin tua, manusia bukannya semakin bijak dalam mengambil SDA, mereka malah semena-mena mengambilnya. Akibatnya? Bumi mengalami peningkatan suhu yang sangat drastic, atau bahasa kerennya: “Global Warming”. Oleh sebab itu musim di Indonesia menjadi tak teratur, kadang hujan, trus panas bangeeett…., eh, hujan lagi. Dasar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=345&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/foto643.jpg"><img class="alignleft" title="Foto(643)" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/foto643.jpg?w=428&#038;h=570" alt="" width="428" height="570" /></a>Dulu, pergantian musim relatif stabil. Tapi itu dulu, sekarang bumi sudah semakin tua, manusia bukannya semakin bijak dalam mengambil SDA, mereka malah semena-mena mengambilnya. Akibatnya? Bumi mengalami peningkatan suhu yang sangat drastic, atau bahasa kerennya: “Global Warming”.</p>
<p>Oleh sebab itu musim di Indonesia menjadi tak teratur, kadang hujan, trus panas bangeeett…., eh, hujan lagi. Dasar, musim sekarang sudah <em>nggak</em> konsisten lagi. Dan biasanya musim kemarau lebih sering nampang dari pada musim penghujan. Inilah salah satu dampak dari perubahan suhu bumi yang berubah secara drastis.</p>
<p>Jika sudah seperti ini siapa yang untung hayooo….? Petani? Mereka malah pusing minta ampun untuk cari air. Jawabannya? Sederhana saja, tukang es. Segala macam penjual es pasti untung banget dech…., dari penjual es teh, es dawet, es jeruk, es degan, dll.</p>
<p>Selain macam-macam es di atas ada juga es oyen yang pasti sudah terkenal di kalangan anak muda gaul seperti sobat Art. Penjual es oyen di Ngawi sekarang seperti cendawan di musim penghujan.</p>
<p>Salah satu penjual es oyen yang sekarang memenuhi rubrik lensa kali lumayan ramah dan sedikit omong (tapi tetep komunikatif kok), so, itu memudahkan Art untuk mengkorek-korek tentang es oyen.</p>
<p>Penjual es oyen yang satu ini bukan seorang bapak-bapak atau ibu-ibu yang usianya diatas kita. Usianya menyiratkan bahwa ‘beliau’ masih muda dan seperti seorang pelajar. ”Saya berumur 17 setengah mbak,” ujarnya dengan wajah ceria layaknya remaja yang menyongsong masa depan cerah.</p>
<p>Dialah penjual es oyen yang berada di utara LAPAS Ngawi, dekat alun-alun, dengan tanda pengenal Jeje di gerobaknya. Nama aslinya adalah Jamaludin, berasal dari Ciamis, Bandung.<span id="more-345"></span></p>
<p>Ketika ditanya mengapa mas Jeje pindah ke Ngawi dan memilih berjualan es oyen, dia menjawab,”Saya ke Ngawi diajak Pak Obay.” Siapa tuh Pak Obay? Beliau adalah pemberi modal dalam pembuatan es oyen yang berasal dari Jogjakarta.</p>
<p>Kalian pasti penasaran kan dari mana sich es oyen ini? Dan mengapa diberi nama es oyen? Sebenarnya es oyen ini berasal dari kota kembang Bandung. Kalo soal namanya, oyen itu diambil dari kata “oye” yang artinya oke, dan setelah mengalami perubahan jadi es oyen dech. “Ya kalo namanya es oye kurang gimana gitu, biar lebih sangar, ya ‘oyen’ kan lebih enak didengar,” tambah mas Jeje. Terserah dech mau oye atau oyen, yang penting kan rasa dan kualitasnya.</p>
<p>Pendapatan rata-rata es oyen perhari adalah sekitar 120-130 ribu. “Kadang ya tergantung musim mbak, kalau kemarau ya lebih laku mbak,” paparnya.</p>
<p>Dilihat dari pendapatan seperti itu, kalau dipikir-pikir, untuk hidup merantau di kota orang ternyata tidaklah mudah. Semua dicukupkan untuk menyambung hidup. Meskipun gerobak tersebut menyewa, tapi masih bisa cukup.</p>
<p style="text-align:center;">            Bagi mas Jeje berdagang bukanlah pilihan hidup. Art yakin tidak ada manusia yang hanya ingin hidup dengan kata cukup, pasti semua ingin hidup lebih dari cukup. Dalam wawancara ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita jangan menyerah dengan tantangan hidup. Ingatlah, selama kita masih mempunyai tangan dan kaki kita harus mampu menompang hidup kita. Art yakin, berjualan es oyen bagi mas Jeje hanyalah batu loncatan untuk mencapai hidup yang lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=345&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/ketika-es-oyen-jadi-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/foto643.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(643)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melodi Alfa dalam Dunia Maya</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/melodi-alfa-dalam-dunia-maya/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/melodi-alfa-dalam-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 10:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Maya kalau ia akan benar-benar hidup sendiri seperti sekarang. Tidak pernah terbayang kalau ia akan kehilangan sebuah melodi indah dalam hidupnya, sebuah melodi yang mengalun pelan dan merdu di setiap langkahnya. Kalau bisa Maya ingin sekali terus mengatakan pada sebuah melodi itu untuk tetap disini. Tapi, Maya juga ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=339&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/d0ff1d53a65b869e56269aafe3793e1b.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-355" title="d0ff1d53a65b869e56269aafe3793e1b" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/d0ff1d53a65b869e56269aafe3793e1b.jpg?w=535" alt=""   /></a>Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Maya kalau ia akan benar-benar hidup sendiri seperti sekarang. Tidak pernah terbayang kalau ia akan kehilangan sebuah melodi indah dalam hidupnya, sebuah melodi yang mengalun pelan dan merdu di setiap langkahnya.</p>
<p>Kalau bisa Maya ingin sekali terus mengatakan pada sebuah melodi itu untuk tetap disini. Tapi, Maya juga ingin seandainya saja ia tidak bertemu dengan kenangan itu, pastikan Maya tidak akan merasa sesedih ini.</p>
<p>“Di tempat biasa dia bilang, cepat ya!!”</p>
<p>Maya langsung berjalan cepat menuju tempat yang dikatakan oleh temannya itu. Langkahnya terhenti saat tiba di sebuah taman kota, dia meihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk lemas di bangku yang bercat warna putih. Mata anak itu memandang jauh ke depan dengan tatapan yang sayu. Haahh&#8230;, Maya menghela nafas saat melihat laki-laki itu, seseorang yang sudah berjuang untuk Maya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.<span id="more-339"></span></p>
<p>Maya menatap lekat laki-laki itu dan ingatannya melayang pada sepuluh tahun yang lalu, saat pertama hidupnya mulai berubah, saat pertama Maya hampir melupakan semua cita-citanya, di saat ibunya meninggalkan Maya untuk selama-lamanya, saat pertama hidup Maya mengenal berbagai melodi indah. Seorang lelaki yang begitu dekat dengan Maya, Kekasih Maya? Bukan, dia bukan kekasih Maya. Dia adalah sahabat Maya yang memiliki cita-cita begitu tinggi dalam hidupnya yang bisa dikatakan kurang beruntung ini.</p>
<p>“Alfa&#8230;,” ucap Maya lirih.</p>
<p>Saat ia mulai teringat bagaimana hari pertamanya bertemu dengan Alfa, saat itu Maya berusia delapan tahun, di mana saat itu juga ibunya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Maya benar – benar terpukul menerima kenyataan itu. Maya mulai beruah dan seolah lupa akan sesuatu yang telah ia janjikan kepada ibunya. Malam setelah dua bulan pemakaman ibunya Maya kabur dari rumah, waktu itu hujan turun sangat deras, Maya kecil menangis di emperan sebuah toko, ia menundukkan kepalanya sambil sesekali menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya utuk mengurangi dingin yang menusuk tulang. Hingga seorang anak laki-laki menghampirinya dan menyodorkan sebungkus roti kepadanya.</p>
<p>“Ini, kau pasti lapar kan?”</p>
<p>“Ehh???”</p>
<p>“Sudah ambil&#8230;”</p>
<p>“Kau pikir aku anak jalanan??” ucap Maya sedikit tak terima.</p>
<p>“Ah? Bukan ya? Maaf, habis kau kacau sekali sih.”</p>
<p>”Apa sih?”</p>
<p>”Lalu, kau kenapa malam-malam begini – di tambah ini hujan deras lagi – ada di sini?”</p>
<p>Teruslah mereka berkenalan, dan semenjak itu mereka mulai dekat.</p>
<p>Alfa-lah yang membuat Maya pulang ke rumah, yang juga membuat Maya merelakan kepergian ibnya, bahkan yang membuat Maya kembali berusaha untuk memenuhi janji pada mendiang ibunya.</p>
<p>Kebetulan saat itu juga Alfa sedang memiliki masalah dalam keluarganya, orang tuanya bercerai.  Dan rasanya sudah ingn mati saja jika ia terus berada di rumah yang bagaikan neraka itu. Hingga Alfa tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kuat dan selalu optimis sedangkan Maya tumbuh menjadi gadis yang manis, pintar, walau agak sedikit kasar. Mereka menjadi sahabat yang selalu ada dan mengerti, apalagi Alfa yang sering membantu Maya.</p>
<p>Dalam hidupnya Alfa bercita-cita menjadi pianis hebat dan bisa konser di seluruh dunia. Usaha yang dilakukan Alfa sangat keras untuk mencapai cita-citanya itu, ia selalu berlatih walau dengan piano pinjaman milik Maya, dan ia selalu optimis juga yakin kalau suatu hari nanti ia akan menjadi seorang pianis yang akan dikagumi dan disenangi oleh orang diseluruh dunia.</p>
<p>Ia akan berada di panggung  besar dan megah dan sedang memainkan sebuah melodi indah dengan piano mewah di hadapannya, dengan disaksikan oleh ratusan penonton yang akan berdecak kagum dan hanyut dalam setiap melodi yang dimainkan Alfa oleh jari-jari lincahnya. Sikap Alfa yang selalu optimis itulah yang membuat Maya termotivasi untuk juga berusaha agar cita-cita dan janji terhadap ibunya bisa tercapai, walau terkadang sifat Maya yang tidak sabaran membuatnya tidak yakin kalau ia bisa dan akan berhasil.</p>
<p>Maka dari itu, Alfa selalu menyemangati Maya dan memberinya motifasi dengan selalu memainkan sebuah lagu berisikan nada-nada yang menyentuh hati. Dan terkadang membuat Maya teringat akan ibunya, tapi Maya sangat bahagia jika mendengar lagu-lagu yang dimainkan oleh Alfa. Sebuah lagu yang sangat dalam dan bisa membangkitkan semangatnya. Alfa memang sahabat Maya yang terbaik, dan juga sosok kakak yang bisa membuat Maya tenang, apalagi Alfa sudah mebuat Maya tidak merasa hidupnya sendiri lagi juga harus bisa menerima keyataan yang ada.</p>
<p>Panas begitu terasa malam ini, padahal AC di kamar Maya sudah dinyalakan dengan suhu yang lebih dingin dari pada biasanya, tidurpun rasanya juga tidak tenang, sedikit sedikit ia selalu teringat akan melodi-melodi yang sering dimainkan Alfa dengan pianonya. Nada-nada itu selalu terdengar di telinga Maya&#8230;, perasaanya kacau dan tidak enak. Apa yang dirasakan Maya malam ini sama dengan yang ia rasakan semalam sebelum kematian ibunya. Ia sama sekali tidak bisa tidur hingga sebuah benda berbentuk kepala doraemon yang tergantung di dinding kamarnya menunjukkan pukul empat pagi, matanya menjadi perih dan merah, ia berusaha untuk memejamkannya tapi sulit sekali rasanya saat itu ia ingin mendengarkan sebuah lagu yang di mainkan oleh Alfa, Maya termenung sesaat hingga handphone-nya berbunyi dan membuyarkan lamunannya.</p>
<p>”Pagi Maya!” ucap seseorang di sebrang telepon sana yang tidak lain adalah Alfa.</p>
<p>”Hmmm&#8230; pagi!”</p>
<p>”Iya.., aku hanya ingin mengatakan padamu kalau kau harus terus berusaha dan opimis akan apa yang sudah kau kerjakan seama ini ya&#8230;, dan satu lagi, jangan selalu merasa kalau kau itu sendirian Lalu&#8230;., maaf  kalau aku merepotkanu selama ini&#8230;, baik-baik yaa..? Selamat pagi Maya, Sahabatku.”</p>
<p>”Eh, kau ini bicara apa sih?”</p>
<p><em>tuuuuttt&#8230;,, tuuuttt&#8230;, tuuuuttt&#8230;&#8230;..</em></p>
<p>Telepon terputus saat pertanyaan Maya belum sempat dijawab oleh Alfa. Ia heran dengan sikap Alfa yang aneh itu, tidak biasanya Alfa bicara ngelantur seperti itu. Perasaan Maya makin tidak enak lagi. Siangnya  ia mencoba untuk jalan-jalan keluar siapa tahu perasaanya ini hanya karena ia bosan di rumah. Ketika sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan waktu pukul setengah sepuluh, handphonenya kembali berbunyi, tapi ini bukan dari Alfa.</p>
<p>“May, aku harap kau bisa menerima berita ini ya&#8230;,” ucap orang itu dengan suara parau.</p>
<p>“Kenapa?“ hati Maya mulai tak karuan.</p>
<p>Orang di seberang yang menelepon Maya menarik nafas panjang supaya ia bisa dan tega menceritakan kabar ini pada Maya dan berharap semoga Maya tidak pingsan sesaat setelah mendengar berita ini.</p>
<p>”Hhhhh.., May, Alfa&#8230; Alfa kecelakaan tadi pagi&#8230;”</p>
<p>Huuuhh&#8230;&#8230;., perasaan Maya benar-benar sudah seperti tersambar petir saat itu juga. ”Lalu, sekarang bagaimana keadaanya?” tanya Maya begitu penasaran.</p>
<p>”Maaf May, Alfa tidak dapat tertolong dan&#8230;.. ia meninggal&#8230;.”</p>
<p>DEG!</p>
<p>Jantung Maya seperti berhenti berdetak, badannya mulai lemas dan rasaya ia sudah tidak bisa medengarkan apa-apa lagi selain kalimat yang baru diucapkan temannya tadi, ”Alfa meninggal&#8230;”</p>
<p>Apa-apaan ini!? Maya merasa takdir telah mempermainkannya, rasanya baru sebentar ia mengenal sosok yang begitu ia kagumi dan bisa memotivasi dirinya tapi tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja dalam hidupnya. Maya benar-benar membenci hidupnya kali ini, inginnya ia menyusul ibunya dan Alfa.</p>
<p>Semalam setelah pemakaman Alfa, Maya mendengar nada itu lagi, sebuah nada yang indah dan selalu membuatnya bangkit, sebuah nada yang sering dimainkan Alfa jika Maya merasa sedih.</p>
<p>Nada itu terus mengalun hingga jam beker di meja dekat tempat tidurnya berbunyi menandakan waktu sudah pagi, membuat Maya terbangun dari tidurnya yang indah malam ini.</p>
<p>”Ohh&#8230; mimpi ternyata,” Maya kaget ketika ia sadar bahwa nada yang baru saja ia dengar adalah sebuah mimpinya malam itu. Membuat Maya teringatkan pesan Alfa yang terakhir, ia termenung dan tersenyum, kemudian hari itu juga telah ia putuskan untuk terus berusaha mencapai cita-citanya, menjadi yang lebih baik dari sebelumya, dan akan menepati janjinya kepada sang ibu tercinta bahwa ia akan menjadi seorang pelukis hebat seperti ibunya dan bisa membuat pameran lukisan besar di Paris. Inilah akhir dari kisah hidup Maya yang selalu diselimuti melodi-melodi indah dari Alfa, sahabat yang sangat ia kagumi, sahabat yang selalu membuatnya tertawa, dan sahabat yang belum sempat mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sekarang, Maya harus berusaha menjalani hidupnya dengan mandiri, membawa semua pesan Alfa yang terakhir dan sebuah impian dan cita-cita tanpa ada melodi yang selalu di mainkan Alfa dalam hari-harinya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/339/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=339&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/melodi-alfa-dalam-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2011/04/d0ff1d53a65b869e56269aafe3793e1b.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">d0ff1d53a65b869e56269aafe3793e1b</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monalisa Kedua</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/monalisa-kedua/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/monalisa-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 10:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi aku melihat gadis itu. Tatap mata gadis manis pembawa boneka koala itu menerawang jauh ke arah laut, tak ada senyum di mulut mungilnya, maupun gerak halus di tubuh indahnya. Dia hanya duduk terpaku di sana, menatap penuh rindu lautan luas sambil memeluk mesra bonekanya. Siapa dia? Entahlah, aku tak mengenalnya. Dan lagi, aku hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=336&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi aku melihat gadis itu. Tatap mata gadis manis pembawa boneka koala itu menerawang jauh ke arah laut, tak ada senyum di mulut mungilnya, maupun gerak halus di tubuh indahnya. Dia hanya duduk terpaku di sana, menatap penuh rindu lautan luas sambil memeluk mesra bonekanya.</p>
<p>Siapa dia? Entahlah, aku tak mengenalnya. Dan lagi, aku hanya sesekali saja memergokinya melamun seperti itu. Memang awalnya aku tak terlalu peduli, sampai akhirnya kenyataan mengungkapkan sesuatu yang besar tentangnya.</p>
<p align="center"># # #</p>
<p>            Hidup sendiri sebagai anak kost membuatku merasa bebas tapi terikat. Enak sih enak apalagi kalau kau seorang cowok, tak ada yang akan memarahimu kalau kau mau molor bahkan bolos kuliah sekalipun, takkan ada lagi rengekan manja dari adik perempuanmu yang selalu saja minta ini itu. Tapi ya itu, terikat dengan kedisiplinan untuk menyelesaikan tunggakan kost adalah kewajiban, ditambah rasa rindu dengan makanan rumah sudah jadi menu utamaku. Syukurlah, pemilik kost di sini baik semua.<span id="more-336"></span></p>
<p>Hari itu aku memutuskan untuk bolos kuliah, ber-DotA (sejenis game untuk komputer) ria semalaman dengan anak-anak kost membuatku lupa waktu, begitu game berakhir tahu-tahu sudah pagi, mata tak bisa diajak kompromi, ngantuk setengah mati.</p>
<p>Saat masuk kamar aku langsung teler di tempat tidur. Akh! Tak peduli dengan kuliah hari ini, dosen galak plus materi yang membosankan malah akan membunuhku di kampus. Mendingan molor saja di kost, hmm……, lebih seger.</p>
<p><em>Tok, tok.</em></p>
<p>“Hmmm….????”</p>
<p><em>Tok, tok.</em></p>
<p>“Ya, ya……,” balasku setengah sadar. Kuangkat kepalaku yang agak berat dan kulirik jam di HPku, 13:30, wuih……, manteb juga tidurku pagi ini.</p>
<p><em>Tok, tok.</em> Sambil sedikit mengerang aku berusaha bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kamar yang mulai agak berderit, dan……..</p>
<p>“Tada!” Boyke berdiri di ambang pintu. Jangan kaget, Boyke hanyalah panggilan saja, title sebenarnya Haris tapi karena dia agak tanda kutip anak-anak memanggilnya Boyke, yah….., cocok juga sih.</p>
<p>“Ada apa?”</p>
<p>“Anak baru! Ayo tu –“ kalimatnya terhenti mendadak saat menarik tanganku.</p>
<p>“Sorry, belom mandi,” jelasku sambil sedikit cengengesan saat melihat reaksi Boy.</p>
<p>“Kampret! Sana mandi! Pantes, kirain parfum aki-aki lu pake.”</p>
<p>“Sorry, sorry,” aku berbalik ke dalam kamar dan mulai mengaduk almari yang tingginya hanya sepinggangku ini, ”Anak mana Boy?” tanyaku masih sambil mencari baju.</p>
<p>“Katanya sih dari Bandung, blasteran cuy.”</p>
<p>“Maksudmu?” aku menoleh menatapnya.</p>
<p>“Ortunya lah, bapak Bandung, emak bule. Yah, sama aja sih <em>kalo</em> cowok, nggak ada rasanya,” ucapnya setengah nyengir.</p>
<p>Aku berjalan mendekat, ”Ngeres!” ujarku setelah menabraknya pelan dan berjalan ke kamar mandi.</p>
<p>“Hah? Boyke gitu!” jawabnya sambil ketawa.</p>
<p>Begitulah. Itulah awal dari semuanya, anak baru itu bernama Pandu, tingginya sama denganku, hanya saja rambutnya sedikit kecoklatan dengan iris mata kebiruan. Mmm……, ini blasteran apa bule asli ya?</p>
<p>Pandu anak yang enak diajak bicara, orangnya sosialis <em>banget</em>, apalagi kamarnya persis di samping kamarku. Nama panggilannya masih belum ada, menunggu keputusan anak-anak, dan dia hanya tertawa saja saat mendengar berita itu.</p>
<p>Suatu malam aku iseng main ke kamarnya, bersih juga untuk ukuran anak laki-laki.</p>
<p>“Makanannya sudah datang?” tanya Pandu saat aku duduk di sampingnya.</p>
<p>“Belum. Yah, ya begini jadinya kalau minta tolong Boy, kelayapan dulu sampai puas baru pulang.”</p>
<p>Dia tertawa pelan, ”Betah juga ya tinggal di sini, anaknya enak-enak,” akunya, dan akupun mengiyakan pendapatnya.</p>
<p>Sambil sedikit berbincang santai mataku menangkap sesuatu yang baru di kamar Pandu, sesosok foto gadis manis terpajang rapi di atas meja computer di sebelah kananku, seingatku, dulu itu belum ada. Tanpa sadar aku pun memandangi foto itu.</p>
<p>“&#8230;&#8230;er? Dokter?”</p>
<p>Aku tergagap sebentar, ”Ya?”</p>
<p>“Ada apa? Bengong saja dari tadi. Dipanggil nggak nyaut-nyaut.”</p>
<p>“Sorry, mm…., dia siapa ya?” tanyaku sambil menunjuk foto itu.</p>
<p>“Oh, adikku.”</p>
<p>“Adik? Kau punya adik?”</p>
<p>“Yah, bukan adik kandung sih. Ibuku mengangkatnya anak setelah orang tuanya meninggalkannya – dia sebenarnya anak temannya ayahku.”</p>
<p>“Oh,” tanggapku singkat. Pantas, dari wajah dan penampilannya dia lebih masuk ke dalam ras IGO alias Indonesian Girls Only, nggak ada tanda-tanda bekas blasteran. Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya. Di mana ya?</p>
<p>“Di mana dia sekarang? Cuma tanya, nggak ada maksud kok,” tambahku cepat-cepat saat Pandu menatapku curiga.</p>
<p>“Dia – “</p>
<p>“Woi! Mesra banget kalian!?” teriak Gombes dari ambang pintu yang sengaja dibiarkan terbuka. Ingat bukan nama asli, Gombes ber-title Panggih.</p>
<p>“Akh! Sarap!” latahku setengah kaget, Pandu tertawa pelan melihatku, ”Sudah selesai kaburnya?” tanyaku berusaha tak menghiraukan tawa Pandu.</p>
<p>“Sudah lah, nih,” dia mengangkat bungkusan besar berisi nasi hangat plus lauk, ”Boy sialan, sok-sokan punya uang, pake <em>nraktir</em> cewek nggak dikenal lagi, jadi nasinya kurang sebungkus nih.”</p>
<p>“Yah……., udahlah, Boy biarin aja dah. Ayo Ndu, mau makan kan?”</p>
<p>“Okey.”jawabnya masih dengan sisa-sisa tawanya tadi. Dasar!</p>
<p align="center"># # #</p>
<p>            Hah…., gadis itu lagi. Siapa sih dia? Ngapain juga siang-siang panas begini malah bengong di atas karang gitu?</p>
<p>Iseng-iseng aku pun menghampirinya.</p>
<p>“Siapa ya?” ucap gadis itu mendadak.</p>
<p>Kaget juga, tak kusangka dia bisa tahu kalau ada orang di belakangnya. ”Sorry ganggu. Cuma mau menyapa saja.”</p>
<p>Gadis itu berbalik, dan, oh Tuhan! Dia cantik sekali! Lebih cantik dari pandanganku saat masih di kejauhan selama ini! Syukurlah aku menghampirinya. Tapi…..</p>
<p>“Kau siapa?”</p>
<p>“Ng, panggil saja Ivan. Aku tinggal tak jauh dari sini.”</p>
<p>“Oh,” tanggapnya pendek lalu kembali menatap laut.</p>
<p>Wah, cantik-cantik kok mbeler. ”Boleh aku duduk di sini?” tanyaku sesopan mungkin dan hanya ditanggapi dengan anggukan pelan darinya. ”Ng…, kalau boleh tahu, kenapa kau sering duduk-duduk di sini?”</p>
<p>“Jadi, kau sering melihatku ya?”</p>
<p>“Yah…, tak sering sih, hanya beberapa kali saja,” bohongku.</p>
<p>“Aku….., menunggu seseorang.”</p>
<p>Jjddaarrr!! Bagai terkena petir di siang bolong aku hangus seketika mendengarnya. Duh, kenapa juga baru dapet IGO segini cantik musti <em>kudu</em> langsung patah hati?</p>
<p>“Si, siapa?” tanyaku lagi berusaha menahan perasaan sakit.</p>
<p>“Kakakku.”</p>
<p>Oh, syukurlah………., serasa dapat pencerahan, ”Memang, kenapa kakakmu?”</p>
<p>“Dia sudah janji akan mengajakku berenang, tapi dia tak juga datang, katanya pemandangan bawah air sangat bagus, aku ingin sekali melihatnya.”</p>
<p>“Oh…, kau mau menyelam?” kataku dan dia mengangguk pelan, ”Bagaimana kalau denganku? Yah…, anggap saja aku kakakmu – tapi aku tak memaksa kok.”</p>
<p>Gadis itu menatapku sebentar dengan pandangan kosong lalu tersenyum dengan bentuk yang sulit untuk diungkapkan maksudnya, “Baiklah,” jawabnya mengagetkanku.</p>
<p>Aku balas tersenyum kepadanya, meskipun masih menyisakan tanda tanya besar di kepalaku. Dan, siang itu aku menyelam bersama dengan IGO cantik yang baru kutemui tadi, cukup menyenangkan juga, sampai lupa waktu, tak terasa ternyata sudah sore, dia pamit pulang sambil menggendong boneka koala yang sering dibawanya itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kali ini ditambah dengan bumbu senyum indah yang siap membuat kaum Adam melayang melihatnya.</p>
<p>Ah….., menyenangkan juga, libur-libur dapet pengalaman kayak gini. Lalu akupun pulang, kembali ke kost-ku.</p>
<p>“Dari mana aja, Dok?” tanya Boy sesaat sebelum aku masuk ke kamar mandi.</p>
<p>“Maen, ketemu IGO nih.”</p>
<p>“Wuih, maen apa tuh??”</p>
<p>“Ngeres! Cuma maen air di pinggir pantai tadi.”</p>
<p>“Oh… Oh ya, ane punya barang bagus nih.”</p>
<p>“Apaan?”</p>
<p>“Biasalah…….”</p>
<p>“Akh! Lu doyannya BB mulu! Males ah, sana, nonton aja sama Gombes! Ketahuan Pak kost tahu rasa lu.”</p>
<p>Dia cemberut sebentar lalu berbalik akan pergi, tapi sesaat sebelumnya dia bertanya lagi padaku, ”Siapa nama si IGO tadi?”</p>
<p>“Ng……, oh ya, aku lupa tanya namanya.”</p>
<p>“Jah, dirimu ini.”</p>
<p align="center"># # #</p>
<p>            Selesai mandi aku pergi ke beranda, anak-anak pada ngumpul di sana, kecuali Boyke, Gombes, dan Terong (title: Yudha), juga……… Wah, jangan-jangan Pandu diboyong juga nih sama si Boy.</p>
<p>“Pandu mana?” tanyaku sambil mengusap rambutku yang masih agak basah.</p>
<p>“Tadi sih kayaknya di kamar, lagi  nge-Kaskus,” jawab Usop (title: Nasir).</p>
<p>“Oh, oke, thanks,” aku bisa bernapas lega sekarang, untung si Boy kagak ngajak dia. Aku pun meluncur ke kamar Pandu, dan ternyata benar, dia ada di sana.”Ayo Ndu, hari ini jadwal kita yang belikan makanan buat anak-anak,” panggilku di ambang pintu.</p>
<p>“Oke, oke. Bentar lagi,” jawabnya sambil masih terus menatap layar komputer.</p>
<p>“Hah.., cepetan, makanan di warung pak Man keburu habis nih.”</p>
<p>“Iya, iya. Lagi ngelunasin utang cendol nih ke ID lu, mau kagak?”</p>
<p>“Eh? O, oke kalau gitu, aku tunggu di sini.”</p>
<p>Tak lama kemudian kami berangkat keluar kost, hawa dingin malam hari langsung menyambut kami berdua. Untunglah tempat beli makanannya tak jauh dari kost, hanya sekitar lima menit naik motor. Tapi nasib berkata lain saat pulang, motor mogok, bengkel sebelah tutup, jadilah kami harus jalan kaki.</p>
<p>“Hah….., motor dan pemilik sama aja. Tukang mbeler.”</p>
<p>“Lu sih Dok pake pinjem motornya Terong, sudah tahu bakalan begini juga.”</p>
<p>“Yah, mau bagaiman lagi? Cuma Terong yang parkirnya di tempat strategis sih,” belaku.</p>
<p>“Ya udah, nasib ya nasib,” balasnya sambil masih terus menggiring motor Terong.</p>
<p>“Oh ya Ndu, tadi aku ketemu IGO lo, lumayan juga.”</p>
<p>“Bikin ngiri! Di mana?”</p>
<p>“Tuh,” jawabku sambil menunjuk ke arah batu karang yang tadi aku singgahi.</p>
<p>“Ngapain tuh IGO di sana? Bunuh diri?”</p>
<p>“Ya nggak lah! Katanya sih nunggu kakaknya, mau berenang bareng gitu.”</p>
<p>Pandu berhenti mendadak dan menatapku dengan mata membulat.</p>
<p>“Apa?” tanyaku keheranan.</p>
<p>“Kau bilang dia menunggu kakaknya?” tanyanya, aku mengangguk membenarkan. ”Kalau begitu ayo kita kembali ke kost.”</p>
<p>“Lha, ini kan memang mau kembali.”</p>
<p>“Maksudku cepatkan langkah lu! Kita musti cepet-cepet kembali ke kost!”</p>
<p>“Ada apa sih? Jangan buat takut gini dong!”</p>
<p>“Sudahlah! Nanti aku jelaskan!”</p>
<p>Begitulah, dengan gerak langkah setengah berlari aku dan Pandu kembali kost.</p>
<p align="center"># # #</p>
<p>            “Ada apa sih Ndu?” tanyaku tak sabar setelah kami selesai menghabiskan makan malam. Tanpa banyak bicara Pandu menarikku ke kamarnya, menyuruhku duduk disembarang tempat dan memulai ceritanya.</p>
<p>“Sejak kapan kau mulai lihat dia duduk di sana?”</p>
<p>“Ng….., entahlah, sekitar sebulan sebelum kau datang kalau tak salah.”</p>
<p>“Apa dia selalu membawa boneka koala?”</p>
<p>“I, iya,” perasaanku mulai tak enak, ”Tunggu dulu, jangan buat aku merasa aneh gini. Kau mau bilang kalau gadis yang kutemui itu semacam……, semacam urban legend gitu?” tanyaku berusaha menghianati kata hantu.</p>
<p>“Bukan!!” teriaknya.</p>
<p>“Tenang dong Ndu! Lalu apa?”</p>
<p>“Akh…!!!” erangnya lalu membanting diri ke tempat tidur.”Sana, ambil foto yang kau lihat beberapa hari lalu itu. Sudah ambil saja!” perintahnya.</p>
<p>Dengan sedikit heran kuturuti saja kemauannya. Kuambil kotak foto kecil itu dan kaget setengah mati setelah mengamatinya. “Lho, kok!?”</p>
<p>“Benar dia kan? Dia adikku, meninggal saat masih berumur delapan tahun.”</p>
<p>“Tapi – “</p>
<p>“Mana mungkin kan? Tapi inilah yang terjadi, aku pernah berjanji padanya untuk mengajaknya menyelam di dekat karang itu,” jelasnya masih sambil tiduran di sana.</p>
<p>Kutatap wajah manis di foto itu, ini memang benar-benar dia, bodohnya aku tak segera menyadarinya. Gadis itu duduk manis di kursi rotan tuanya, sambil tersenyum samar dan memegang sesuatu yang ternyata sebuah boneka koala kecil yang selalu didekapnya. Senyumnya aneh, mirip dengan senyum yang ditunjukkannya padaku tadi siang, seperti ingin mengatakan sesuatu.</p>
<p>“Monalisa kedua,” ucapku tanpa sadar.</p>
<p>“Maaf?”</p>
<p>“Ng? Ah, tidak, cuma……, entah kenapa kalau lihat senyumnya ini aku jadi ingat lukisan mahal itu.”</p>
<p>Pandu melepas napas panjang, “Dia adikku, tapi tak punya hubungan darah sama sekali denganku. Meskipun begitu aku tetap mencoba untuk jadi kakak yang baik untuknya. Tapi tetap saja, segala upaya yang aku dan keluargaku lakukan tak pernah membuatnya tersenyum, hanya itulah satu-satunya senyum yang pernah diutarakannya.”</p>
<p><em>‘Begitu ya?</em>’ batinku. Hah……, jadi ingat sama adik perempuanku di rumah, aku bahkan jarang sekali bersikap manis padanya, jadi tak enak. Sedang apa dia saat ini?</p>
<p>“Aku ingin meminta maaf padanya,” lanjut Pandu, ”Aku melupakan janji itu sampai akhirnya dia jadi korban dari tangan orang-orang tak bertanggung jawab saat menungguku sendirian di sana. Seandainya aku datang, pasti hal itu takkan terjadi, dan aku akan menemukan senyum yang sesungguhnya darinya.” ucapnya pelan setengah merintih sambil menutup wajah dengan lengannya.</p>
<p align="center"># # #</p>
<p>            Sejak kejadian malam itu, kini aku tak lagi pernah melihat sosok Monalisa kedua yang duduk termenung di atas karang, kecuali dari foto milik Pandu yang masih saja dipajangnya di atas meja computer.</p>
<p>“Mungkin dia sudah senang,” ujarku, ”Meskipun kau tak melihatnya tapi yakinlah, dia tersenyum tulus sesaat sebelum pergi,” tambahku untuk menenangkan Pandu yang terus saja gelisah.</p>
<p>Akhirnya suatu malam dia cerita padaku, dia bermimpi bertemu adiknya yang tersenyum senang kepadanya sambil berterima kasih lalu memeluknya erat.</p>
<p>Hah…., sepertinya aku juga mulai rindu pada adikku. Kirim sms ah……..</p>
<p>To :</p>
<p>My beloved sister (baru saja kuganti nama kontaknya)</p>
<p>Message :</p>
<p>Lgi ap dik?Ka3 kngen nih………, :malu:</p>
<p>Ntar klo plang bilng ma ibu klo ka3 pngen dibwatin opor ayam yach? :kiss</p>
<p><em>Bip,bip</em>. Sms terkirim. Tak lama kemudian………… <em>Bip, bip.</em> Sms balasan masuk.</p>
<p>From :</p>
<p>My beloved sister</p>
<p>Message :</p>
<p>WOOEEEII!!UDH MNUM OBT BLOM!?!?Pke acra manggil dik segla! :najis</p>
<p>Mrinding tw dengrnya!! :takut</p>
<p>Sna!Kuliah yg bner!!Jngan mz yg anh” gni lgy!! :batabig</p>
<p>Dan aku ngakak seketika. Oh ya, tapi sampai sekarang aku masih terus kepikiran sama sesuatu. Kenapa anak perempuan yang kutemui dulu itu seperti seumuran denganku ya??</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=336&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2011/04/19/monalisa-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melati yang mekar kembali</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/melati-yang-mekar-kembali/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/melati-yang-mekar-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Keringatku bercucuran dari keningku, tubuhku mencoba untuk melawan terik matahari. dengan dahaga yang terus kutahan hingga terdengar bunyi adzan, tak terasa menjadi kuli pasar tidak mudah ketika datang hari puasa namun sudah biasa bagiku bekerja dengan berpuasa karena untuk mencari berkah yang lebih di hari yang suci ini. “  Man..Parman… siang-siang kok puasa.kita itu kuli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=290&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-292" title="abby-rex-jasmine-flower" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower1.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a> Keringatku bercucuran dari keningku, tubuhku mencoba untuk melawan terik matahari. dengan dahaga yang terus kutahan hingga terdengar bunyi adzan, tak terasa menjadi kuli pasar tidak mudah ketika datang hari puasa namun sudah biasa bagiku bekerja dengan berpuasa karena untuk mencari berkah yang lebih di hari yang suci ini.</p>
<p>“  Man..Parman… siang-siang kok puasa.kita itu kuli jadi tidak puasa juga nggak ada yang marahi…!” kata Manto sambil menepuk pundakku.</p>
<p>“iya..betul itu..mendingan kita ngopi di warung mbak tuti..enak kan..ayo..?!” ajak tarmin.</p>
<p>“iya memang enak ngopi di mbak tuti tapi saya kapan-kapan saja min,lagi puasa.” Kataku dengan menyuruh mereka pergi duluan.</p>
<p>Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan ku, aku pun berjalan menghampiri sebuah kursi kayu panjang dan duduk sambil menyeka keringatku. Dan aku membanyangkan sedang apakah melati kecilku,apakah puasanya lancar,anak satu-satu dari pernikahanku dengan lastri.aku tersenyum sendiri dan ingin cepat pulang.namun truk-truk pengangkut padi pun datang dan saatnya aku mulai kembali  bekerja lagi mengangkat padi berkarung-karung satu demi satu dengan punggungku yang sudah semakin rapuh.<span id="more-290"></span></p>
<p>terik matahari menghilang dan langit berwarna biru keabu-abuan menandakan bahwa sore telah tiba. Juragan padi pun mulai membagikan upah kepada kami,upah yang tak seberapa tapi kami sangat membutuhkan itu.aku pun pulang dengan hati yang gembira karena sebentar lagi adzan berbunyi.</p>
<p>“bapak sudah pulang ?!” kata melati dengan suaranya yang lembut menyapa telinga.</p>
<p>“iya sudah sayang..”kataku dengan menggendong melati masuk rumah.</p>
<p>Suara adzan magrib mulai bergema.</p>
<p>“alhamdullilah…” kataku setelah meminum secangkir teh hangat buatan lastri.</p>
<p>Dengan sandal butut, kedua kakiku melangkah untuk mengambil air wudhu. Aku pun mengajak melati kecilku dan lastri untuk berangkat ke mushola dekat rumah.</p>
<p>Walaupun hidup kami pas-pasan tapi kami mencari uang dengan halal,agar dalam menjalani hidup,kami merasa senang,dan dengan sebisanya kami mencukupi kebutuhan melati agar dia dapat selalu bahagia.</p>
<p>Malam pun tiba, melati sudah terlelap di atas kasur yang hanya berukuran kecil. Aku memandang wajah kecil melati yang tertidur pulas. Begitu menggemaskan,dan terlihat wajah yang masih polos tanpa dosa. Kemudian Lastri datang dari dapur dengan membawa dua cangkir kopi dan memberikan secangkir untukku.</p>
<p>“ tadi melati bertanya pak..” kata Lastri sambil memandang melati.</p>
<p>“ bertanya apa?” tanyaku.</p>
<p>“ kapan dibelikan baju baru untuk lebaran.”kata Lastri dengan sedih.</p>
<p>“iya …kalau sudah punya uang nanti kita belikan.. upah ku juga menurun karena hari puasa tenaga kami berkurang..?”kataku.</p>
<p>Jika aku punya uang banyak pasti akan aku penuhi semua keinginan melati namun apa daya yang bisa aku lakukan hanya sebatas ini.</p>
<p>Dan esok paginya pun melati bertanya padaku tentang baju baru untuk lebaran.</p>
<p>“bapak…teman-teman Melati sudah memperlihatkan baju baru padaku. Kapan bapak membelikan baju untuk melati?” kata Melati dengan senyum manjanya.</p>
<p>Aku bingung untuk menjawabnya. aku menjadi merasa tidak berguna menjadi bapak karena hanya baju untuk lebaran aku tak sanggup membelikan untuk anakku.</p>
<p>“ iya kalau lebaran tinggal bentar .kita beli ya Melati ..”kataku dengan tersenyum.</p>
<p>“ benarkah pak..?” kata Melati dengan riang dan aku hanya menjawab dengan anggukan.</p>
<p>Dengan janji-janji palsuku yang melegakan hatinya,akhirnya melati tertidur dengan lelap.</p>
<p>Pagi ini dengan berpegang teguh dengan janji ku pada melati untuk membelikan baju lebaran yang baru maka aku berkerja dengan giat agar upahku lebih tinggi, puasa tak jadi halangan bagiku asalkan aku bisa menyenangkan keluarga ku aku akan sangat bahagia. Dengan menantang terik matahari aku mulai mengangkat karung-karung padi di punggungku. Lelah rasanya hidu[p seperti ini sekeras aku bekerja upah ku masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, namun hari ini beda juragan kami, memberikan upah yang lebih secara Cuma-Cuma kepada kami,para kuli.</p>
<p>“ Melati dan Lastri pasti senang melihatku pulang dengan membawa uang yang lebih ini”! gumam ku dengan tersenyum bangga.</p>
<p>Akhirnya aku bisa memujudkan keinginan Melati membeli baju baru untuk menyambut tibanya bulan Ramadhan. Suara Adzan magrib mulai bergema aku segera menuju masjid kecil di dekat pasar dan mengambil air wudhu. Setelah selesai sholat, takmir masjid menyuruhku untuk ikut buka bersama,biasanya jika datang bulan puasa di masjid selalu ada buka puasa bersama, dan ini merupakan rejeki untuk dapat langsung berbuka dan mengembalikan tenaga sebelum bersepeda untuk pulang menuju rumahku. Aku menyantap makanan dengan cepat karena aku ingin cepat pulang untuk memberikan uang lebih hasil kerjaku. Namun dari kejauhan terlihat Jono tetanggaku sedang berjalan cepat dan terlihat kebingungan aku pun pergi keluar masjid dan menghampiri Jono.</p>
<p>“Jon.. kamu ini kenapa kok bisa sampai disini..juga terlihat seperti orang kebingungan.. ayo sekarang mendingan kita buka puasa di masjid dulu..?” tanyaku dengan menepuk punggung Jono.</p>
<p>“ ti..tidak mas… saya kesini membawa berita buruk..Me..Me..lati..!!” kata Jono terbata-bata.</p>
<p>“ Melati kenapa???” Tanya ku dengan panic.</p>
<p>“Me..lati dirumah sakit mas…gawat keadaannya” katanya tersendat-sendat.</p>
<p>“apa..rumah sakit mana??” tanyaku dan menarik Jono</p>
<p>“di jalan manggar mas…!” katanya</p>
<p>Akupun langsung berlari kerumah sakit yang tak jauh juga dari pasar. Begitu panik aku mendengar kabar buruk itu.sakit apakah anakku? Tadi pagi saja Melati masih sehat bahkan dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku.apakah itu pertanda buruk. Oh..aku tak tau.Tuhan berikan Melati kekuatan untuk melawan musibah ini.</p>
<p>Ketika aku sudah sampai rumah sakit Jono langsung memberi tahu ku kamar melati. Aku pun berlari menuju kamar tersebut,terlihat Lastri duduk di kursi tunggu,wajahnya terlihat lesu dan lemas.</p>
<p>“ Melati kenapa Las..?”Tanya ku dengan memegang punggung Lastri.</p>
<p>“kecelakaan mas..” jawab Lastri.</p>
<p>“kecelaakaan apa? Dan bagaimana keadaannya ?”tanyaku penasaran.</p>
<p>“kecelakaan mobil dan keadaannya kritis !” kata Lastri nesegukan.</p>
<p>Tubuhku terasa Lesu dan ikut lemas, serasa kerjaku sehari ini sia-sia.</p>
<p>Akhirnya setelah lama menunggu dokter keluar. Kami pun masuk, terlihat kain putih bersih menutupi wajah Melati yang mungil. Latri langsung menjerit histeris. Akupun juga serasa tak kuat menyangga tubuhku,jantung ku berdegup kenjang,nadiku serasa tak  berdetak, pandanganku kosong. Sebelumnya aku tak pernah merasakan keadaan yang seperti ini.</p>
<p>“Me..Me..lati..sudah pergi las”kata ku lirih.</p>
<p>Tubuh Lastri jatuh disampingku,dia pingsan karena tak kuat dengan semua ini.  Kubuka penutup wajah Melati. Kutemuka wajah Melati pucat dan beberapa darah tersirat di wajahnya. Kemudian suster datang dan permisi untuk membersihkan tubuh Melati. Aku pun menunggu di depan. Ku ambil uang dari sakuku. Kugenggang erat.. uang untuk baju baru Melati kini tinggal kenangan, aku meneteskan air mataku, kenapa keinginan terakhirnya aku tak dapat memenuhi. Aku menyalahkan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku, oh…Melati kecilku.</p>
<p><a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-291" title="abby-rex-jasmine-flower" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a>Lebaran pun telah lewat,tak ada suasana yang menyenangkan seperti dulu,tak ada senyum manja yang tersungging dari bibir kecil Melati, sekarang rumah kecil kami terasa sepi. Lastri juga masih sedikit murung dan sakit-sakitan akhir ini.</p>
<p>Dan hari ini seperti biasa aku mulai bekerja. Namun puasa telah usai jadi hari ini lebih terasa ringan pekerjaan ku. Aku pun beristirahat di kursi panjang seperti biasanya.</p>
<p>Namun terlihat Jono berlari kebingungan seperti dulu ketika menyampaikan kabar buruk tentang Melati. Ada apakah ini? Hatiku mulai kacau. Kuhampiri Jono.</p>
<p>“ada apa Jon?” kataku panic.</p>
<p>“gawat mas..mbak Lastri di rumah sakit,tadi pingsan”</p>
<p>Aku pun langsung berlari menuju rumah sakit, namun pintu kamar tempat Lasrti berbaring tidak tertutup seperti Melati dulu.aku pun masuk. Dan menemui dokter,terlihat Lasrti masih tak sadarkan diri.</p>
<p>“bagaimana keadaan Lastri dok?” Tanya ku dengan panic.</p>
<p>Dengan tersenyum kemudian dokter menjawab “ tidak apa-apa pak.. pasien Cuma kelelahan..dan selamat..?” kata dokter dengan menjabat tanganku. Ada apakah ini?.</p>
<p>“istri anda hamil..” kata dokter.</p>
<p>Aku sangat senang mendengar itu.tuhan telah mengembalikan Melati padaku. Suatu anugerah yang besar bagiku.kuhampiri Lastri yang sudah bangun.</p>
<p>“ Las..kau hamil?”kataku dengan bahagia.</p>
<p>“benarkah..?” kata Lastri tidak percaya.</p>
<p>“iya Las…jika perempuan akan kuberi nama Melati..!”kataku senang.</p>
<p>“iya mas aku setuju..Melati kita telah mekar kembali..? jawab Lastri.</p>
<p>Aku dan Lastri pun tertawa bersama penuh kebahagiaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=290&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/melati-yang-mekar-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">abby-rex-jasmine-flower</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/abby-rex-jasmine-flower.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">abby-rex-jasmine-flower</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SPECIAL ( PESAN DARI, DAN UNTUK LEADER)</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/special-pesan-dari-dan-untuk-leader/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/special-pesan-dari-dan-untuk-leader/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Special]]></category>
		<category><![CDATA[anggota Artesis]]></category>
		<category><![CDATA[persembahan terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hariyati Sekar S. / XII IA 3 Kedigdayaan Bukanlah Daya Terbesar Lelah mencari-cari kata yang pantas untuk mengakhiri semua Lelah jua menjadi seorang wanita yang adidaya Biar puas hanya menelan asinnya peluh sendiri Bahwa tanggung jawab tak berakhir di dunia, Melainkan jua di akhirat Apa yang dapat ku jawab Jika Munkar atau Nakir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=286&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Hariyati Sekar S. / XII IA 3</p>
<p>Kedigdayaan Bukanlah Daya Terbesar<a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/leader_on_pedastal_photo27225540_std1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-288" title="leader_on_pedastal_photo27225540_std" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/leader_on_pedastal_photo27225540_std1.jpg?w=300&#038;h=236" alt="" width="300" height="236" /></a></p>
<p><strong>Lelah mencari-cari kata yang pantas untuk mengakhiri semua</strong></p>
<p><strong>Lelah jua menjadi seorang wanita yang adidaya</strong></p>
<p><strong>Biar puas hanya menelan asinnya peluh sendiri</strong></p>
<p><strong>Bahwa tanggung jawab tak berakhir di dunia,</strong></p>
<p><strong>Melainkan jua di akhirat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa yang dapat ku jawab</strong></p>
<p><strong>Jika Munkar atau Nakir bertanya,</strong></p>
<p><strong>“Apa yang telah kau lakukan ?”</strong></p>
<p><strong>Akhirnya aku menjawab,</strong></p>
<p><strong>“Saat itu aku masih belajar”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ini semua parsembahan bagi manusia</strong></p>
<p><strong>Yang lelah selama berbulan ini</strong></p>
<p><strong>Menjaga amanah semua</strong></p>
<p><strong>Dan berkorban banyak dalam kepemimpinannya</strong></p>
<p><strong>Leader-leader digdaya Smasa</strong></p>
<p><strong>Yang tengah menikmati masa tenangnya</strong></p>
<p>Sahabat ku…..<span id="more-286"></span></p>
<p>Adalah wajar jika para muda kini tengah mempersiapkan program apa yang akan di canangkan dalam kepemimpinannya. Kami ucapkan selamat bagi adik-adik kelas XI yang terpilih menjadi leader baru organisasi di Smasa kita tercinta ini. Kami semua percaya bahwa kalian adalah orang-orang yang terpilih<em>, mumpuni,</em> dan lebih baik tentunya dari pada kakak-kakak kalian. Atas dasar kepercayaan itulah, regenerasi terjadi dan kami semua setujui sebagai sebuah proses seleksi alam yang kami percaya “yang muda yang berbicara”.</p>
<p>Banyak hal yang menjadi pertimbangan pula ketika kami berada pada posisi kalian. Pertanggung jawaban kami tak hanya sekedar LPJ yang telah di tanda tangani dan di sahkan, melainkan pula pertanggung jawaban moral terhadap berjalannya masa kepemimpinan kami.Mungkin di anggap tak seberapa hal yang telah kami lakukan, tapi semoga itu dapat menjadi kajian bagi kalian, bahan bakar semangat kalian dalam memutarkan roda kepemimpinan. Leader adalah juga manusia yang bisa khilaf setiap saat. Besarnya beban pertanggung jawaban itulah yang harusnya kalian, para leader baru, pikirkan secara matang dan jangan sampai ada penyesalan di ujung masa kalian.</p>
<p>Dulu, kami orang-orang yang memegang masa kepemimpinan itu, berjuang agar segala sesuatu yang mampu membuat Smasa bangga, akan kami lakukan. Kami kebalkan tubuh, membentuk imunitas yang tinggi agar tahan terhadap cibiran, tahan uji dalam berbagai medan. Kami sadar bahwasanya kami bukanlah seorang super yang mampu mengatasi semuanya. Hanya saja kami berpikir bahwasanya kami punya daya dan upaya. Untuk memperjuangkan apa yang telah di amanahkan. Dalam keseluruhan waktu menjalankan amanah, tentu lelah kami rasakan. Namun kadang kami berpikir itu tak seberapa di banding hukum yang harus kami terima jika nanti kami di mintai pertanggung jawaban.</p>
<p>Lelah itu kami rasakan indah ketika kita semua bersatu<em>, tumplek bleg</em> dalam satu ikatan persatuan, senasib sepenanggungan dalam organisasi. Sayap kami satu, tak ada kanan, tak ada kiri, jika satu patah maka patahlah sudah, biar kami benahi sendiri semua dengan daya dan upaya kami lagi. Leader adalah otak dari segala hal, meski lelah kadang kami, para leader rasakan, hal itu berbuah senyum ketika teringat betapa jalan sunyi itu sama-sama pula di lewati. Tangis kadang parnah di rasa sulit, tapi jalan yang pasti ada akhirnya ini, telah berakhir. Semoga kalian, para leader baru, tahu.</p>
<p>Ketika kami mendapatkan penyematan itu, selain tanggung jawab yang kami emban, kami masih punya banyak hal yang turut pula menjadi identitas kami<em>.</em> Maka adalah sebuah embel-embel, <em> becik kethithik ala</em> <em>ketara</em>, hal itu yang selama ini menjadi pertimbangan kami semua. Bahwasanya hal yang kita lakukan akan jadi bahan evaluasi bagi para mata yang senantiasa pro maupun kontra dengan diri pribadi para leader. Bila kita melakukan sebuah kebaikan, itu merupakan hal yang biasa, hal lumrah yang menjadi tanggung jawab, lain halnya jika suatu saat para leader salah dalam mengambil tindakan, maka kesalahan dan kejelekan itu akan terlihat jelas dan menjadi aib yang luar biasa bagi <em>track record</em> kepemimpinan. Belajar dari hal itu semua, wahai pemimpin muda, yang kini dan sampai suatu saat nanti memegang tampuk kepemimpinan para leader terdahulu, senantiasa lakukanlah hal yang terbaik, agar masalah tak  berujung pada penjatuhan mental kalian semua.</p>
<p>Dengan datangnya kalian untuk menggantikan kami, besar pula harapan terselip untuk kalian ketika tampuk jabatan itu kami serahkan. Meski haru kembali kami rasakan seperti saat kami di lantik dahulu, itulah rasa haru wujud harapan tersirat kami kepada kalian. Semoga kalian mengerti. Bahwasanya apa yang pernah kami rasakan, cepat atau lambat akan kalian rasakan pula. Jangan pernah teteskan air mata, kecuali kalian merasa Allah di samping kalian. Untuk menunjukkan bahwasanya hidup harus selalu semangat, do’a dan ikhtiar, <em>ma’anajah</em> adik-adikku semua. Tersenyumlah sebagai wujud semangatmu. Segala sesuatunya akan terasa berlangsung singkat. Mengertilah bahwa bumi ini semakin tua, berotasi dengan ajeg untuk menunjukkan bahwa bumi makin berumur, dan ijinkan kami yang tua ini merasakan masa tenang kami setelah kami merasakan apa-apa yang akan kalian rasakan nanti di tengah perjalanan kepemimpinan kalian, para leader baru.</p>
<p>Untuk para leader lama, yang berlalu biarlah berlalu. Pertanggung jawaban kita selesai di sini, namun semoga kita bisa dengan baik menyelesaikan urusan kita pada suatu saat kelak ketika kita di mintai lagi pertanggung jawaban itu. Semangat untuk hari depan, biarkan yang muda yang meneruskan urusan kita. Persembahan bagi kita adalah kebahagiaan bersama-sama dalam organisasi. Selamat menikmati hari-hari tenang kita sebagai tua yang membimbing seorang muda.</p>
<p>Para leader baru, ingatlah ketika kelak kau mengalami masa-masa sulit, itu hanya sebagian peraturan alam yang harus kalian taati. Jangan pernah bersedih, apa yang harus kalian lakukan adalah kalian sendiri yang mengetahui. Kalian manusia punya daya, punya upaya, syukurilah anugerah tersempurna itu, di banding makhluk Allah yang lain. Bahwa leader memiliki kedigdayaan, tapi itu bukanlah yang mengatur segalanya, ingatlah bahwa takdir tetap mampu menciptakan atau menggagalkan rencana kalian.</p>
<p>Khusus untuk Pimred Artesis yang terpilih, saya pribadi mengucapkan selamat berjuang, kalian pasti bisa membawa Artesis di puncak kejayaan. Teruskan cita-cita dan misi pendahulu kalian<em>. Create New Creatifity!!!</em></p>
<p>Ingatlah Allah senantiasa bersama kalian memberi petunjuk kepada kalian. Kuatkan iman kalian, kuatkan mental kalian, kami yang sekarang bukan siapa-siapa ini yakin bahwa kalianlah yang mampu dan yang terbaik. Semangat kalian lebih dari kebahagiaan kami memiliki kalian semua. Tancapkan cakar kalian kuat-kuat, galang persatuan erat-erat, jangan sampai kalian tercerai berai. Teruskan perjuangan kami, para leader lama pamit pada kalian, membawa senyum kebanggaan akan kekuatan kalian, membawa ketenangan kami, jangan patah arang<em>, rawe-rawe rantas,</em> <em>malang-malang putung</em>. Selamat datang, selamat magang, selamat berjuang, semangat dan tetap tegaplah.</p>
<p>1:19 AM</p>
<p>18/5/09</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=286&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/special-pesan-dari-dan-untuk-leader/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/leader_on_pedastal_photo27225540_std1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">leader_on_pedastal_photo27225540_std</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BOM BUNUH DIRI, JIHAD KAH??</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/bom-bunuh-diri-jihad-kah/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/bom-bunuh-diri-jihad-kah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 09:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bening]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum.wr, wb sobat art?! Kaifa haluka? Semoga Allah SWT. Selalu memberikan kesehatan pada sobat art semua(baik jasmani maupun rohani lho),AMIIN… Dalam kesempatan ini,kami ingin berbagi wawasan kepada sobat art mengenai jihad dalam islam. Menurt syariat islam,jihad artinya adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.Dan jihad dilaksanakan untuk menjalankan msi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah dan menjaganya agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=283&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/jihad_rock.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-284" title="jihad_rock" src="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/jihad_rock.gif?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Assalamu’alaikum.wr, wb sobat art?! Kaifa haluka? Semoga Allah SWT. Selalu memberikan kesehatan pada sobat art semua(baik jasmani maupun rohani lho),AMIIN…</p>
<p>Dalam kesempatan ini,kami ingin berbagi wawasan kepada sobat art mengenai jihad dalam islam.</p>
<p>Menurt syariat islam,jihad artinya adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.Dan jihad dilaksanakan untuk menjalankan msi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah dan menjaganya agar tetap tegak.Yang cara-caraya sesuai dalam Al-qr’an dan Hadits.<span id="more-283"></span></p>
<p>Mau tahu pelaksanaan jihad itu seperti apa? Simak aja lanjutannya…</p>
<p>Pelaksanaan jihad dibagi menjadi tiga konteks:</p>
<ol>
<li>Diri sendiri</li>
</ol>
<p>Yaitu dengan berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh ajaran selain Allah,dengan perjuangan spiritual di dalam diri,mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.</p>
<ol>
<li>Komunitas</li>
</ol>
<p>Yaitu dengan berusaha semaksimal mungkin agar Din masyarakat sekitar dan keluarga tetao tegak,denga dakwah dsn membersihkan mereka dari kemusyrikan.</p>
<ol>
<li>Kedaulatan/Negara</li>
</ol>
<p>Yaitu denga berusaha menjaga eksistensi kedaulatan dari serangan luar,maupun penghianatan dari dalam agar ketertiban dan ketenangan beribadah pada rakyta di Negara tsb tetap terjaga,termasuk di dalamnya pelaksanaan Amar Ma’ruf nahi  munkar.</p>
<p>Tapi sobat art,dalam konteks  yang ketiga ini hanya berlaku pada  Negara yang menggunakan Din islam secara menyeluruh(kaffah).Sehingga kita cukup melaksanakan jihad seperti  yang ada pada koneks pertama dan kedua.</p>
<p>Nah,sobat art sekarang sudah  tahu kan pelaksanaan jihad itu bagaimana?(Alhamdulillah…kala sudah  tahu)</p>
<p>Ngomong-ngomong masalah jihad,masih ingat kan tentang aksi terorisme yang diatasnamakan jihad islam? Seperti yang dilakukan oleh otak teroris yang  baru-baru ini kabarnya sudah tewas terbunuh,yaitu Noordin Memang Top(eits…Noordin M.Top kalee…). Sebenarnya terorismr tidak bias dikataan sebagai jihad. Jihad dalam bentk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat,seperti halnya perang yang dilakukan oleh Rasulullah.SAW yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kedzaliman kaum Quraisy yang  melanggar hak hidup kaum muslimin yang berada di Makkah.</p>
<p>Sebagaimana yang tercantum dalam QS.An-Nisa` : 75,yang artinya :</p>
<p><em>“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah,baik laki-laki,wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a:”Ya Tuhan kami,keluarkanlah kami dari negeri ini(Makkah) yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau!”</em></p>
<p>Perang yang mengatasnamakan penegakan islam,namun tidak mengikuti sunah Rasul,berarti tidak bias dikatakan jihad..!!</p>
<p>Sunah Rasul untuk penegakan islam bernula dari dakwah tanpa kekerasan,hijrah ke wilayah yang aman dan menerima dakwah Rasul,kemudian mengaktualisasikan suatu masyarakat islami yang bertujuan untuk menegakkan Din Allah di muka bumi.</p>
<p>Selain itu sobat art,penentangan teror melalui bunuh diri sudah tercantum daam QS.An-Nisa` : 29<em>,”Dan janganlah kalian membunuh diri kalian,sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian”.Dan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW. Bersabda,:’’Barangsiapa yang bunuh diri denga menggunakan suatu alat/cara di dunia,maka ia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat”(HR.Bukhari Muslim)</em></p>
<p>Nah sobat art,sudah jelas kan sekarang?? Ternyata terorisme itu berbeda sekali dengan jihad ya? Dan sangat tidak tepat apabila terorisme itu dikategorikan sebagai salah satu bentuk jihad. Sekarang yuk kita bahas, apakah bom bunuh  diri itu termassuk bentuk dari jihad?</p>
<p>Bom bunuh diri itu tidak dikenal dalam islam. Istilah bunuh diri saja sudah haram hukumnya dalam islam. Dulu saat berperang,ada sahabat Rasulullah yang langsung menyerang. Sahabat Nabi yang lainnya mengatakan,”Jangan jerumuskan dirimu dalam jurang kebinasaan,itu termasuk bunuh diri”.Tetapi oleh sahabat yang lainnya ditolak,karena kenyataannya,si penyerang tadi itu dapat kembali dengan selamat.</p>
<p>Cara berperang di zaman Nabi dahulu memang tidak boleh menyerang sendirian.Karena aturannya mereka harus saling berhadapan satu lawa satu.Tetapi sahabat Nabi tadi tanpa dikomando dan dikoordinasi dari pimpinan langsung mengadakan penyerangan.Inilah yang dijadikan alas an beberapa pihak untuk memperbolehkan melakukan bunuh diri.Padahal saat itu sahabat Nabi tsb tidak bertujuan untuk  bunuh diri,karena dia mampu menembus barisan musuh dan dapat kembali ke barisan dengan selamat.</p>
<p>Selanjutnya sobat art,bunuh diri itu ditinjau dari kalimatnya saja sudah salah,tapi masalahnya ada pengertian seperti ini,”Saya  membunuh orang dan saya turut terbunuh”. Itukan sekedar diplomasi mereka,namun kenyataannya,bagaimana bila dia membawa  bom sendiri ,lalu tanpa melakukan  penyarangan,bom itu dia ledakkan sendiri. Dalam konteks hierarki seperti orang di .palestina itu masih bisa dibenarkan.Karena  dia tahu sasarannya dan  bom itu diledakkan.Tetapi kalau yang dibunuh itu adalah tukang ayam,hasilnya kan rugi. Benar gak sobat art??</p>
<p>Ada cerita lagi.Dulu itu ada orang tamil yang membawa bom lalu merangkul Rajiv Gandhi dan meledakkan  bomnya. Dilihat dari sisi itu maka pelakunya tsb tidak melakukan sesuai dengan ilmu dan bergantung pada hidayah&amp;taufik Allah.Jadi jihad itu bukan semata-mata  karena provokasi dan kepentingan pribadi.</p>
<p>Itulah  sobagt  art,penjelasan mengenai jihad yang sebenarnya,yang sesuai dengan aturan dan syariat islam. Kita sebagai seorang pelajar perlu sekali mengetahui  hal tsb,agar kita tidak mudah diprovokasi oleh orang-orang awan  yang mengatakan  bahwa  bom bunuh diri itu adalah salah satu  bebtuk dari jihad.</p>
<p>Seperti tragedi bom bunuh diri di Hotel J.W Marriot dan Rirlt Charlton beberapa waktu lalu.Hal tsb tidak bisa dikatakan sebagai jihad,karena tujuannya tidak jelas,dan  sasarannya pun juga tidak  jelas apa dan siapa.</p>
<p>Demikianlah sobat art,sekilas informasi dan penjelasan mengenai jihad,yang semoga bisa menambah wawasan sobat art semua tentang masalah tsb.</p>
<p>Syukron katsiron bagi sobat art yang telah bersedia untuk membaca rubrik ini</p>
<p>Syukron katsiron `ala timaamikum.</p>
<p>Wassalamu`alaikum wrwb.</p>
<p><strong>Oleh : RMF (<em>Rohis Moslem Foundation</em>)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/283/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=283&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2010/01/03/bom-bunuh-diri-jihad-kah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artesiana.files.wordpress.com/2010/01/jihad_rock.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jihad_rock</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMULAI DARI HAL SEDERHANA, …</title>
		<link>http://artesiana.wordpress.com/2009/11/30/memulai-dari-hal-sederhana-%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://artesiana.wordpress.com/2009/11/30/memulai-dari-hal-sederhana-%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artesiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artesiana.wordpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Ao…..sobat Art. Tahun ajaran baru udah berjalan beberapa bulan nih, pasti banyak rencana dan cita-cita yang pengen kamu raih sepanjang tahun ini. Pastinya nggak bakal berjalan lancar-lancar aja, selalu ada halangan. Sebesar apa rintangan yang akan menghadang? Kita nggak pernah tahu sebelumnya, yang penting semua rencana di tahun ajaran nie bisa terlaksana. Banyaknya rintangan, banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=279&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ao…..sobat Art. Tahun ajaran baru udah berjalan beberapa bulan nih, pasti banyak rencana dan cita-cita yang pengen kamu raih sepanjang tahun ini. Pastinya nggak bakal berjalan lancar-lancar aja, selalu ada halangan. Sebesar apa rintangan yang akan menghadang? Kita nggak pernah tahu sebelumnya, yang penting semua rencana di tahun ajaran nie bisa terlaksana. Banyaknya rintangan, banyak cara pula untuk mengatasinya, asal kamu mau meluangkan setiap waktu untuk minimal satu perubahan. Sebab, rencana-rencana baik dari kita kadang harus terhalang oleh kebiasaan buruk. Percaya…kalau kamu mau berubah, hmm…kesempaan emas bakal ada buat kamu. Bingung dari mana harus melakukan perubahan? Coba deh baca beberapa tips sederhana nie!</p>
<p><span id="more-279"></span></p>
<p>v     Bangun pagi dan tersenyumlah. Menurut kepercayaan bangun siang jauh dari rezeki! Untuk itu, kita wajib bangun pagi. Karenanya kita bisa mempersiapkan segala sesutu lebih awal. Lalu dengan tersenyum di setiap bangun pagi akan membawa dampak positif dan membuatmu bersyukur atas hidup nie.</p>
<p>v     Ucapkan 3 kata ampuh, “terima kasih”, “maaf”, da “tolong”. Waw…orang yang kita anggap musuh sekalipun akan leleh jika kita mau mengucapkannya. Kita coba untuk menggunakan tiga kata tersebut kepada teman dan keluarga, karenanya mereka merasa lebih dihargai.</p>
<p>v     Memaafkan kesalahan diri sendiri. Memang, apabila rencana kita gagal akibat kesalahan sendiri rasanya amat sulit untuk memaafkan. Tapi nie bisa dicoba untuk mengurangi stress.</p>
<p>v     Sehari belajar dengan serius. Minimal satu jam dalam sehari. Nie untuk melatih fokus dimasa depan. Apalagi kita sebagai pelajar jadi tugasnya yow-belajar-dengan benar.</p>
<p>v     Berdoa dan bersyukur. Nie merupakan suatu hal yang tidak boleh terlupakan. Sebab rencana dan cita-cita harus diusahakan beriringan doa. Bersyukur pun akan mendapat nikmat yang lebih. So……apa salahnya mensyukuri setiap hal indah yang kita dapat hari ini.</p>
<p>Tips sederhana di atas moga-moga aja bisa membantu kalian untuk berubah menuju yang lebih baik. Sesuatu yang membuat kita lebih luas melihat arti dalam hidup pasti dimulai dari yang sederhana. Setelah itu kita harus pintar-pintar memilih jalan mana yang bakal dilewati untuk meraih cita-cita dan salurkan selalu kebiasaan positifmu buat orang-orang di sekitar?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artesiana.wordpress.com/279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artesiana.wordpress.com/279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artesiana.wordpress.com&amp;blog=7218141&amp;post=279&amp;subd=artesiana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artesiana.wordpress.com/2009/11/30/memulai-dari-hal-sederhana-%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/160584896cf6ccc1f31929f38997ad66?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artesiana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
